Banten 1926: Dua Haluan, Satu Perahu

Banten dikenal sebagai wilayah Islam ortodoks. Namun, melawan otoritas kolonial Belanda di bawah komunisme.

OLEH:
Bonnie Triyana
.
Banten 1926: Dua Haluan, Satu PerahuBanten 1926: Dua Haluan, Satu Perahu
cover caption
KH Achmad Chatib bersama Jusuppadi Adiwinata, Kolonel Eri Sudewo, dan Kapten Peter Lee, pengamat militer Cina untuk PBB. (Else Ensering, Banten in Times of Revolution).

TAK ada lagi sisa-sisa bengkel sepeda milik Djarkasih. Bangunannya digantikan oleh gedung ruko yang baru. Kecuali toko emas Laris, yang masih berdiri sampai sekarang, seluruh bangunan toko di Pasar Lama Serang sedikit saja menyisakan jejak dari masa lalu. Yang tertinggal dari bengkel sepeda bersejarah itu hanya sederet kalimat dalam catatan sejarah dan sejumput kisah masa lalu yang diselubungi banyak pertanyaan.

Pada pertengahan 1925, bengkel sepeda itu digunakan sebagai tempat pertemuan pertama PKI Banten. Serangkaian pertemuan pun dilakukan sampai PKI berdiri resmi sebagai cabang ke-37 di Hindia Belanda. Beberapa tokoh turut dalam pertemuan tersebut antara lain Puradisastra, Tubagus Alipan, Tubagus Hilman, Lee Eng Hock, dan Aliarchman, dan Achmad Bassaif.  

Dalam bukunya, Arit dan Bulan Sabit: Pemberontakan Komunis 1926 di Banten, Michael C. Williams menjelaskan pertemuan di bengkel sepeda itu membahas cara meraih simpati warga Banten. Orang Banten dikenal sebagai penganut agama Islam yang ortodoks dan masih menempatkan pewaris Kesultanan Banten pada posisi terhormat. Situasi tersebut, menurut Else Ensering dalam tulisannya “Banten in Times of Revolution”, mau tak mau membuat PKI yang menyesuaikan dengan kenyataan masyarakat Banten.

TAK ada lagi sisa-sisa bengkel sepeda milik Djarkasih. Bangunannya digantikan oleh gedung ruko yang baru. Kecuali toko emas Laris, yang masih berdiri sampai sekarang, seluruh bangunan toko di Pasar Lama Serang sedikit saja menyisakan jejak dari masa lalu. Yang tertinggal dari bengkel sepeda bersejarah itu hanya sederet kalimat dalam catatan sejarah dan sejumput kisah masa lalu yang diselubungi banyak pertanyaan.

Pada pertengahan 1925, bengkel sepeda itu digunakan sebagai tempat pertemuan pertama PKI Banten. Serangkaian pertemuan pun dilakukan sampai PKI berdiri resmi sebagai cabang ke-37 di Hindia Belanda. Beberapa tokoh turut dalam pertemuan tersebut antara lain Puradisastra, Tubagus Alipan, Tubagus Hilman, Lee Eng Hock, dan Aliarchman, dan Achmad Bassaif.  

Dalam bukunya, Arit dan Bulan Sabit: Pemberontakan Komunis 1926 di Banten, Michael C. Williams menjelaskan pertemuan di bengkel sepeda itu membahas cara meraih simpati warga Banten. Orang Banten dikenal sebagai penganut agama Islam yang ortodoks dan masih menempatkan pewaris Kesultanan Banten pada posisi terhormat. Situasi tersebut, menurut Else Ensering dalam tulisannya “Banten in Times of Revolution”, mau tak mau membuat PKI yang menyesuaikan dengan kenyataan masyarakat Banten.  

“Untuk menggerakkan Banten yang dikenal hanya bisa menerima orang-orang asli Banten sebagai kawan seperjuangan mereka, hanya orang-orang menak dan telah jadi komunis yang dikirim ke sana,” tulis Ensering. Sementara itu, untuk meraih simpati dari kalangan Islam, PKI menugaskan Achmad Bassaif, seorang Arab-Banten yang fasih berbahasa Arab.

Bekas bengkel sepeda Djarkasih di Pasar Lama Serang. (Irwan/Historia.ID).

Bergabungnya kaum agamawan di Banten dalam PKI tak terlepas dari konflik internal Sarekat Islam. Tak hanya di tingkat kepengurusan pusat Sarekat Islam (Central Sarekat Islam, CSI), tetapi juga di tingkat lokal Banten. Ketua SI Banten dipegang oleh Hasan Djajadiningrat, saudara lelaki ahli sejarah Banten, Husein Djajadiningrat.  

Di bawah kepemimpinannya, SI menjadi organisasi moderat yang tak memberikan tempat bagi ulama dan jawara Banten. SI di tangan Hasan, menurut Williams, telah gagal menjadi sandaran pengharapan bagi orang-orang Banten yang menghendaki perubahan dalam kehidupan mereka.  

Sartono Kartodirdjo dalam Pemberontakan Petani Banten 1888: Kondisi, Jalan Peristiwa, dan Kelanjutannya, mengungkapkan kondisi sosial ekonomi masyarakat Banten yang terpuruk sejak abad ke-19. Masuknya pengaruh Barat dalam tata pemerintahan, bencana alam, gagal panen, dan tingginya angka pajak membelit kehidupan orang Banten.  

Pecahnya SI jadi dua, Merah dan Putih, demikian Williams, “hampir tidak mempengaruhi apapun dalam masyarakat Banten.” Williams menambahkan bahwa pertumbuhan PKI di Banten secara efektif merombak kondisi isolatif wilayah ini.  

Ketika Hasan meninggal pada 1920, tampuk kepemimpinan SI dipegang oleh Achmad Chatib. Radikalisme SI Banten mulai tumbuh di tangannya. Dalam sebuah pertemuan, Chatib mengatakan, “bila melindungi agama adalah satu dari tujuan PKI maka saya pun sepakat.”  

Chatib kemudian dinobatkan sebagai “Presiden Agama PKI Seksi Banten”. Dia sepenuhnya bertanggung jawab terhadap jalannya aktivitas PKI karena pemerintah kolonial telah melakukan banyak penangkapan terhadap para pemimpin PKI di Banten, seperti Tubagus Hilman dan Ali Mamak, yang telah terlebih dahulu ditahan karena aktivitas politiknya.

Benjamins, opzichter S.S atau Pengawas Jawatan Kereta Api di Menes, Pandeglang, Banten. (Bintang Hindia, 27 November 1926).

Huru-Hara

Aliansi Islam-komunis di Banten itu bermuara pada peristiwa pemberontakan PKI pada 12 November 1926. Huru-hara terjadi di Batavia, beberapa daerah di Jawa Tengah, dan yang menggemparkan di Banten, menyusul kemudian di Silungkang, Sumatra Barat pada Januari 1927.  

Di Banten, insiden yang menimbulkan kegemparan terjadi di Menes dan Labuan. Dua kota kecil itu dikepung pemberontak setelah beberapa hari sebelumnya rapat umum mendaulat Achmad Chatib sebagai pembicaranya. Asisten Wedana Labuan Mas Wiriadikoesoema dan keluarganya ditangkap. Seorang pengawas kereta api Benjamins di Menes tewas di tangan pemberontak.  

Sebelum dibunuh para pemberontak, Benjamins sempat memohon ampun dan menyatakan akan masuk Islam. Namun, para pemberontak memutuskan untuk membunuhnya. Mayatnya dibiarkan tergeletak di tepian rel. Sementara itu, para pemberontak juga menghabisi nyawa dua polisi. Target utama kaum pemberontak di Menes, Wedana Raden Partadiningrat dan pengawalnya sempat melakukan perlawanan. Namun, akhirnya para pemberontak membunuh mereka. Dua orang pemberontak, Djaimoen dan Haji Entje, tewas dalam baku tembak tersebut.  

Pemberontakan tak berlangsung lama. Kabar segera tersiar sampai Batavia. Pemerintah kolonial segera mengirim satu kompi polisi bersenjata. Baku tembak terjadi di Menes dan Labuan. Para pemimpin pemberontakan dengan cepat dapat diringkus. Sebagian melarikan diri dan baru muncul bertahun kemudian sebagai aktivis politik bawah tanah dari partai yang telah dibubarkan itu.  

Penangkapan demi penangkapan segera dilakukan. Tidak hanya di Menes dan Labuan, serangkaian razia dilancarkan oleh pemerintah kolonial di Rangkasbitung, Pandeglang, dan Serang. Ratusan orang ditangkap, puluhan di antaranya harus menerima hukuman penjara dan kerja paksa.  

Empat orang pemberontak dihukum mati. Mereka adalah Jas’a, Jamin, Doelsalam, dan Haji Asikin. Semua berasal dari Menes dan bertanggung jawab atas pembunuhan Benjamins. Para pemimpin PKI lainnya dibuang ke Boven Digoel, tempat pembuangan yang secara khusus dibuat oleh pemerintah kolonial untuk menahan pelaku pemberontakan PKI 1926 dari seluruh Hindia Belanda.  

Boven Digoel kemudian tak hanya digunakan sebagai tempat penahanan bagi kaum komunis. Beberapa pemimpin gerakan nasionalis, seperti Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir pun ikut diasingkan ke pedalaman Papua yang dibayang-bayangi kelamnya wabah malaria hitam.

Pemberontak di Labuan yang tertangkap polisi kolonial. Haji Sarudin (duduk paling kiri) merupakan salah satu pemimpin pemberontak. (Bintang Hindia, 27 November 1926).

Ketemu di Jalan

Menurut Dawam Rahardjo, aliansi Islam dengan komunisme di masa lalu tidak didesain secara sengaja. “Islam dan komunisme itu ketemu di jalan,” katanya dalam diskusi “Islam dan Marxisme” di Komunitas Salihara, Jakarta, 11 Desember 2013.  

Peristiwa pemberontakan PKI di Banten pada 1926 memang menunjukkan adanya pertemuan kepentingan yang sama antara Islam dan komunisme. Gerakan tarekat di Banten selama beberapa abad menjadi landasan melancarkan perang sabil terhadap kekuasaan kolonial yang asing dan “kafir”. Sementara kaum komunis memandang pemerintah kolonial wujud dari kekuasaan kaum modal di Indonesia.

Paling tidak dua kali dalam seabad terjadi pemberontakan melawan otoritas kolonial di Banten. Pada abad 19, pemberontakan pertama terjadi tahun 1854 dipimpin oleh Haji Wakhia dan kedua tahun 1888 dipimpin oleh Haji Wasid. Daftar pemberontakan semakin panjang apabila ditambah peristiwa lokal lainnya mulai dari Mas Jakaria (1811), Mas Haji dan Mas Rakka (1818–1819), Mas Raye (1827), Nyi Gumparo (1836), dan peristiwa pemberontakan yang gagal pimpinan Ratu Bagus Ali dan Mas Jabeng (1839). Semua dapat ditumpas oleh pemerintah kolonial.  

Pasca kegagalan pemberontakan yang dimotori oleh gerakan tarekat pada abad ke-19 itu, gerakan tarekat diawasi secara ketat di Banten. Ensering mengatakan ketika PKI masuk ke Banten, sebagian anggotanya juga adalah jamaah tarekat yang aktif. Bahkan, menurut Williams, sebagian pengikut PKI merupakan keturunan para pemberontak peristiwa 1888.  

Riwayat kegagalan di masa lalu, kondisi sosial ekonomi yang makin menurun dan adanya harapan baru yang diusung oleh PKI membuat “pertemuan di jalan” itu berakhir sebagai pemberontakan. Kisah perlawanan di Banten memang tak berhenti sampai tahun 1926. Para revolusioner yang pulang dari pengasingan di luar negeri dan pembuangan di Boven Digoel, kembali memainkan peranan dalam revolusi sosial di Banten pengujung 1945–1946.  

Pemberontakan PKI di Banten pada 1926, kendati mengalami kegagalan dan mendapatkan tuduhan dari Tan Malaka sebagai “demam revolusi”, telah mencatatkan diri sebagai perlawanan pertama terhadap pemerintah kolonial dalam sejarah modern di Indonesia.*

Majalah Historia No. 17 Tahun II 2014

Buy Article
Punya usulan tema?
promo
Apa tema menarik yang menurut anda layak ditulis untuk Historia Premium
SUBSCRIBE TO GET MORE
If you have a topic that you would like to publish into the Historia Premium, write an abstract and propose it to the internal communication team!
Subscribe
61dd035df96feb03f800b713
65fa111b005593a2aee5a947