Cerita di Balik Nama Fredy S

Ibunya sudah tak kuat merawatnya. Orang tua angkatnya memberi nama Bambang Eko Siswanto, yang kemudian lebih dikenal sebagai Fredy S.

OLEH:
Wenri Wanhar
.
Cerita di Balik Nama Fredy SCerita di Balik Nama Fredy S
cover caption
Fredy S bersama ibu angkatnya, Amanah, di Semarang tahun 1972. (Dok. Keluarga Fredy S/Historia.ID).

JUARIYAH tergopoh-gopoh membawa anak keduanya yang baru berusia tiga bulan ke sebuah rumah sakit di Kalisari, Semarang. Dokter mendiagnosis bayi itu sakit paru-paru basah sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Sementara Juariyah hidup pas-pasan. Tak ada lagi sandaran hidup setelah berpisah dari suaminya, M. Zein, seorang keturunan Arab, yang memutuskan kembali ke Jakarta. Dalam keputusasaan, ia bergumam: “Aku sudah capek di rumah sakit. Kalau ada yang mau anak ini, aku akan memberikannya.”

JUARIYAH tergopoh-gopoh membawa anak keduanya yang baru berusia tiga bulan ke sebuah rumah sakit di Kalisari, Semarang. Dokter mendiagnosis bayi itu sakit paru-paru basah sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Sementara Juariyah hidup pas-pasan. Tak ada lagi sandaran hidup setelah berpisah dari suaminya, M. Zein, seorang keturunan Arab, yang memutuskan kembali ke Jakarta. Dalam keputusasaan, ia bergumam: “Aku sudah capek di rumah sakit. Kalau ada yang mau anak ini, aku akan memberikannya.”

Amanah, yang berada di dekatnya, mendengar. “Benar, Bu?” Sudah lama Amanah menikah dengan Ahmad namun belum jua dikaruniai momongan.

“Benar,” sahut Juariyah pasti.

Setelah berembuk dengan suaminya, Amanah mengadopsi bayi itu. Ia memberi nama Bambang Eko Siswanto –kelak lebih dikenal dengan nama Fredy Siswanto atau Fredy S.

Bambang disayang laksana anak kandung. “Orang tua angkat Bambang tergolong orang berada. Ayahnya tentara,” ujar Sri Suyati, 59 tahun, di kediamannya di bilangan Bekasi. Yati, begitu ia biasa disapa, adalah kawan sepermainan Bambang yang kemudian jadi istri pertamanya.

Bambang Eko Siswanto lahir di Semarang pada 5 Mei 1954. Sejak kecil, ia menggandrungi seni. Di antara kawan-kawan sepermainan, ia dikenal jago gambar. Selain itu, ia pandai memainkan gitar dan piano.

Perkara berkesenian, Bambang mendapat pengaruh dari keluarga yang membesarkannya. “Pamannya, saudara-saudara dari ibunya, seniman terkenal di Semarang. Yang paling terkenal Bambang Siswanto. Ia bintang film,” ujar Suyati.

Menurut Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926–1978, yang disusun Tim Sinematek Indonesia, Bambang Siswanto alias Mohamad Abdul Syukur lahir di Pekalongan tahun 1934. Ia mulai menekuni dunia seni sebagai vokalis rombongan keroncong Burung Kenari. Sempat jadi pemain sandiwara dan penyanyi di RRI studio Bukittinggi, ia membentuk Duet Basista bersama Bambang Usmanto, adik kandungnya. Bambang Siswanto kemudian dikenal sebagai pemain film.

Fredy S terbaring sakit terkena stroke, Mei 2014. (Micha Rainer Pali/Historia.ID).

Ketika Bambang Eko Siswanto duduk di kelas 6 SD, orang tua angkatnya bercerai. Ahmad tetap tinggal di Semarang, sedangkan Amanah pindah ke Jakarta. Bambang ikut ibunya ke Jakarta dan melanjutkan pendidikan ke SMP. Setelah lulus, Bambang kembali ke Semarang dan tinggal bersama ayah angkatnya yang sudah kawin lagi. Ia sekolah di SMA PGRI Semarang.

Setelah lulus SMA, Bambang mulai melakoni hobi menggambarnya sebagai pekerjaan. Ia membuat cerita komik yang kemudian terbit dengan mencantumkan nama Fredy S –ada juga yang memakai nama Sagita; diambil dari horoskopnya, Sagitarius. “Seingat saya dicetak dan diedarkan Penerbit Sutawijaya di Semarang,” ujar Suyati.

Fredy S, yang terbaring di ranjang, menyimak dan hanya manggut-manggut. Karena mengidap stroke, ia tak bisa lagi bicara. Namun pendengarannya masih baik. Ketika Suyati menyebut Penerbit Sutawijaya-lah yang memberikan nama Fredy S, ia langsung bereaksi. Kepalanya menggeleng, tangannya melambai-lambai.

“Jadi, Fredy S nama dari siapa?”

Fredy gesit mengacungkan jari telunjuk. Sejurus kemudian ia mengarahkan jari telunjuknya ke dadanya. Ia melempar senyum.

“Fredy artinya batu yang kokoh,” ujar Suyati. Fredy mengangguk, membenarkan.

Sejak komik-komiknya terbit, nama Fredy S melekat pada diri Bambang Eko Siswanto. Kawan-kawannya di Semarang pun mulai memanggil Fredy. Dan dengan nama Fredy S pula ia menapaki jagat sastra Indonesia dan bahkan dunia perfilman dan televisi.

Suatu waktu, dari tetangga sebelah rumah, Fredy mengetahui bahwa dirinya anak pungut. Ia langsung melacak kebenaran ceritanya. Suyati menemani.

“Ia cari Ibu Juariyah sampai ketemu. Dan setelah ketemu, ia kembali ke pangkuan Ibu Amanah yang menyayanginya laksana anak kandung,” kata Suyati. “Waktu itu, sekitar tahun 1977. Anak kami sudah empat.”*

Majalah Historia No. 19 Tahun II 2014.

Buy Article
Punya usulan tema?
promo
Apa tema menarik yang menurut anda layak ditulis untuk Historia Premium
SUBSCRIBE TO GET MORE
If you have a topic that you would like to publish into the Historia Premium, write an abstract and propose it to the internal communication team!
Subscribe
61dd035df96feb03f800b713
6454c9d68ef8f69c707d52ce