Intel Liar Kolonel Zulkifli Lubis

Zulkifli Lubis membentuk unit intelijen yang dibenci oleh tentara. Penyelidik Militer Chusus ini kemudian dibubarkan.

OLEH:
Hendi Jo
.
Intel Liar Kolonel Zulkifli LubisIntel Liar Kolonel Zulkifli Lubis
cover caption
Mayjen TNI Didi Kartasasmita (kanan) dan Letjen TNI Oerip Soemohardjo di Yogyakarta. (IPPHOS/Perpusnas RI).

PADALARANG 1946. Begitu turun di halaman stasiun kereta api, Mayjen TNI Didi Kartasasmita dan pengawalnya langsung dikepung sejumlah pemuda bersenjata. Mereka merangsek dan menghalang-halangi Panglima Komandemen Jawa Barat itu untuk memasuki stasiun. Diteror seperti itu, alih-alih menjadi keder, kemarahan Didi malah memuncak.

“Kalian ini mau apa? Kalau kalian melukai saya, kalian selamanya akan diburu!” bentak Didi dalam biografinya, Pengabdian bagi Kemerdekaan karya Tatang Sumarsono.

PADALARANG 1946. Begitu turun di halaman stasiun kereta api, Mayjen TNI Didi Kartasasmita dan pengawalnya langsung dikepung sejumlah pemuda bersenjata. Mereka merangsek dan menghalang-halangi Panglima Komandemen Jawa Barat itu untuk memasuki stasiun. Diteror seperti itu, alih-alih menjadi keder, kemarahan Didi malah memuncak.

“Kalian ini mau apa? Kalau kalian melukai saya, kalian selamanya akan diburu!” bentak Didi dalam biografinya, Pengabdian bagi Kemerdekaan karya Tatang Sumarsono.

Dihardik sedemikian rupa, para pengepung langsung berhenti bergerak. Satu persatu, mereka lantas meninggalkan Stasiun Padalarang dan menghilang ditelan keramaian. Siapakah para pemuda bersenjata itu?

Didi mensinyalir mereka adalah anggota PMC (Penyelidik Militer Chusus), unit intelijen bagian dari BI (Badan Istimewa) yang dibentuk oleh Zulkifli Lubis pada akhir September 1945 di Yogyakarta dengan melibatkan 40 eks perwira Peta (Pembela Tanah Air) dan eks informan Jepang.

“Lubis yang memberi pangkat dirinya sendiri sebagai seorang kolonel, bekerja cepat untuk membentuk organisasi intelijen pertama di Indonesia,” ujar Ken Conboy dalam Intel: Inside Indonesia’s Intelligence Service.

PMC merupakan unit BI yang khusus menangani internal militer. Tugas utamanya membersihkan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan wilayah-wilayah Republik dari kaki tangan musuh. Tak aneh, kendati markas besarnya ada di Yogyakarta, mereka berkeliaran nyaris di seluruh Jawa.

Kolonel Zulkifli Lubis, pendiri Badan Istimewa yang memiliki unit Penyelidik Militer Chusus. (Dok. Keluarga Zulkifli Lubis/Historia.ID).

Yang jadi masalah PMC tak memiliki koordinasi dengan TKR. Menurut sejarawan Robert B. Cribb dalam Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People’s Militia and The Indonesian Revolution 1945-1949, mereka bekerja sendiri dan mengklaim memiliki akses langsung kepada Presiden Sukarno. “Walaupun dalam situasi kacau, mereka tidak bertanggung jawab kepada siapa pun,” tulis Cribb.

Akibatnya, PMC seolah para koboi yang melakukan aksi sepihak sehingga membuat gerah komandemen setempat. Tanpa melakukan penyelidikan secara teliti, para intel liar tersebut menciduk dan mengeksekusi siapa pun yang diisukan sebagai kaki tangan Belanda. Seperti yang mereka lakukan terhadap seorang kepala stasiun di Padalarang.

Selain penculikan dan pembunuhan, para anggota PMC pun terlibat aktif dalam aksi-aksi pemerasan terhadap orang-orang Tionghoa. Bahkan di Purwakarta, ada seorang gadis Tionghoa yang nekat menceburkan diri ke sumur saking takutnya kepada para anggota PMC. “Selain di Jawa Barat, ketidaksukaan serupa muncul juga dari daerah lain,” ujar Cribb.

Sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap situasi di Jawa Barat, Mayjen TNI Didi Kartasasmita marah besar. Terlebih setelah terjadi peristiwa pengepungan dirinya oleh sejumlah anggota PMC di halaman stasiun Padalarang. “Sudah keterlaluan. Kalau dibiarkan mereka akan semakin merajalela dan pasti akan menyulitkan,” kata Didi.

Tanpa banyak pertimbangan, Didi lantas memerintahkan anak buahnya untuk menciduk para anggota PMC yang berkeliaran di sekitar Padalarang dan Purwakarta. Hasilnya sekira 30 anggota PMC berhasil ditangkap dan langsung ditahan di Markas Besar Komandemen Jawa Barat.  

“Saya langsung memerintahkan Zulkifli datang ke Purwakarta guna menyelesaikan masalah anak buahnya,” kenang Didi.

Beberapa hari kemudian, Zulkifli Lubis datang memenuhi panggilan. Di hadapan Didi, sang kolonel berjanji akan memeriksa anak buahnya tersebut. Beberapa waktu kemudian, tepatnya 3 Mei 1946, PMC dibubarkan dan diganti dengan suatu badan bernama FP (Field Preparation).*

Buy Article
Punya usulan tema?
promo
Apa tema menarik yang menurut anda layak ditulis untuk Historia Premium
SUBSCRIBE TO GET MORE
If you have a topic that you would like to publish into the Historia Premium, write an abstract and propose it to the internal communication team!
Subscribe
61dd035df96feb03f800b713
64771d262bfc836b6eb7bfae