Irawan Soejono Melawan Nazi-Jerman

Irawan Soejono turut melawan Nazi-Jerman di Belanda. Ia tewas ditembak saat menyelundupkan mesin cetak stensilan. Namanya diabadikan sebagai nama jalan.

OLEH:
Hendri F. Isnaeni
.
Irawan Soejono Melawan Nazi-JermanIrawan Soejono Melawan Nazi-Jerman
cover caption
Kelompok mahasiswa Indonesia Barisan Irawan ikut parade pembebasan di Leiden. (Repro Di Negeri Penjajah).

DI sebuah sudut di bilangan Osdorp, pinggiran Amsterdam, terhampar sebuah jalan yang tak terlalu panjang. Jalan itu merentang 200 meter, menghubungkan Jalan Rudi Bloemgartensingel dengan Trijn Hullemanlaan dan diapit oleh dua jalan: Jacob Paffstraat dan Geertruide Lierstraat.

Pemerintah Kota Amsterdam menamai jalan itu Irawan Soejonostraat. Irawan Soejono bukan sosok terkenal, terlebih bila dibandingkan tokoh-tokoh Indonesia lain yang dijadikan nama jalan di Belanda, seperti R.A. Kartini (Kartinistraat), Mohammad Hatta (Hattastraat), dan Sutan Sjahrir (Sjahrirstraat).

Nama Irawan diabadikan karena perjuangan dan pengorbanannya di negeri, yang ironisnya, menjajah tanah airnya. Jalan Irawan Soejonostraat diresmikan pada 4 Mei 1990, bersamaan dengan peringatan para pahlawan dan korban-korban pendudukan Nazi-Jerman.

DI sebuah sudut di bilangan Osdorp, pinggiran Amsterdam, terhampar sebuah jalan yang tak terlalu panjang. Jalan itu merentang 200 meter, menghubungkan Jalan Rudi Bloemgartensingel dengan Trijn Hullemanlaan dan diapit oleh dua jalan: Jacob Paffstraat dan Geertruide Lierstraat.

Pemerintah Kota Amsterdam menamai jalan itu Irawan Soejonostraat. Irawan Soejono bukan sosok terkenal, terlebih bila dibandingkan tokoh-tokoh Indonesia lain yang dijadikan nama jalan di Belanda, seperti R.A. Kartini (Kartinistraat), Mohammad Hatta (Hattastraat), dan Sutan Sjahrir (Sjahrirstraat).

Nama Irawan diabadikan karena perjuangan dan pengorbanannya di negeri, yang ironisnya, menjajah tanah airnya. Jalan Irawan Soejonostraat diresmikan pada 4 Mei 1990, bersamaan dengan peringatan para pahlawan dan korban-korban pendudukan Nazi-Jerman.

Jalan Irawan Soejonostraat di Osdorp, Amsterdam. (Joss Wibisono).

Belanda Diduduki Nazi-Jerman

Irawan lahir di Pasuruan pada 24 Januari 1920. Ayahnya, Raden Adipati Ario Soejono adalah orang Jawa yang menjadi menteri tanpa portofolio dalam kabinet Belanda yang dibentuk di pengasingan di London. Soejono meninggal pada 5 Januari 1943 di usia 56 tahun.

Irawan tiba di Belanda pada 1934 untuk kuliah di Leiden. Ketika Belanda diduduki Nazi-Jerman pada 10 Mei 1940, para pelajar Indonesia ikut melawan tentara fasis, antara lain menyiarkan propaganda anti-Nazi melalui koran bawah tanah.

Sejarawan Harry A. Poeze menulis dalam Di Negeri Penjajah, sesudah surat kabar bawah tanah, Feiten (Fakta) berhenti terbit, sebagai penggantinya diterbitkan surat kabar De Bevrijding (Pembebasan). Irawan masuk dalam jajaran redaksi bersama Pamoentjak, Alex Ticoalu, Soeripno, I.A. Mochtar, Rozai Koesoemasoebrata, dan F.K.N. Harahap.

De Bevrijding terbit tiga kali seminggu, sampai Mei 1945. Oplahnya antara 3.500–20.000 eksemplar. Sampai Maret 1945, koran ini berbentuk stensilan, baru setelah itu cetakan. Dari surat kabar ini sendiri tak dapat diketahui bahwa koran ini diterbitkan oleh Perhimpunan Indonesia. Di Leiden, koran ini bekerja sama dengan koran-koran bawah tanah lain. Masalah suplai kertas dan listrik mengakibatkan diterbitkannya koran-koran gabungan. Koran ini dikirim dengan kereta api ke Den Haag dan Rotterdam.

Sampai September 1944, De Bevrijding juga terbit di Den Haag di bawah redaksi Tamzil, Moewaladi, Sie Soe Giang, dan Oelam Simatoepang, yang sebelumnya bekerja di Feiten. Koran stensilan ini terbit tiga kali seminggu, bahkan belakangan setiap hari dengan oplah 4.000 eksemplar. Kendati namanya sama, isi koran De Bevrijding di Den Haag dan Leiden, berbeda. Ikatan kedua koran ditunjukkan oleh kata-kata geautoriseerde uitgave (diterbitkan dengan izin). Koran ini hampir seluruhnya berisi berita tentang jalannya perang. Hanya tiga kali muncul artikel tentang Indonesia.

De Bevrijding juga terbit di Rotterdam pada September 1944 di bawah redaksi Jusuf Muda Dalam dan Gondo Pratomo. Penerbitan koran ini mendapatkan bantuan dari kelompok-kelompok perlawanan Belanda. Bahkan, Gondo Pratomo berhasil menyewa satu rumah untuk menyimpan mesin stensilan, yang juga mencetak koran bawah tanah, De Vrije Katheder edisi Rotterdam. Rumah ini juga menjadi tempat pertemuan dan persembunyian anggota Perhimpunan Indonesia.

Jenazah Irawan Soejono dalam buku “Leiden 40-45”. (Joss Wibisono).

Henk dari Pembebasan

Dalam in memoriam Irawan di majalah Indonesia, 1 September 1945, pemimpin Perhimpunan Indonesia, Soeripno menulis bahwa kalangan pergerakan bawah tanah menyebut Irawan sebagai “Henk van de Bevrijding atau “Henk dari Pembebasan.”

Sebutan tersebut, menurut Soeripno, sangat tepat karena “dia dibebani tugas urusan teknis majalah bawah tanah kami. Dia adalah ‘direktur’ dan ‘administratur’, dia mengurus mesin-mesin, kertas dan pesawat-pesawat radio, dan dia mengangkutnya dengan sepeda bak, kereta dorong, atau koper. Cuaca baik atau buruk, berbahaya atau tidak, malam larut, Henk senantiasa siap. Dengan saksama dia melaksanakan tugasnya, membuat dirinya termasuk salah seorang anggota Perhimpoenan Indonesia yang paling patut dipuji, dan menjadi nyawa ‘Pembebasan’.”

Meskipun kegiatan utamanya di De Bevrijding, namun Irawan juga bergabung dengan satuan tempur Barisan Mahasiswa Indonesia dalam Binnenlandsche Strijdkrachten (Tenaga Pejuang Dalam Negeri), organisasi perlawanan yang dibentuk pada 5 September 1944.

“Jiwa perjuangannya memungkin dia siap pula apabila diperlukan menyandang sten atau karaben untuk mengusir kaum penyerbu yang dibenci itu untuk selamanya dari negeri ini,” tulis Soeripno. Kelak, Soeripno dieksekusi mati karena terlibat peristiwa Madiun 1948.

Soeripno menjadi pendiri dan komandan pertama Barisan Mahasiswa yang terdiri atas empat regu. Dua minggu kemudian Soeripno mengundurkan diri. Satu regu terdiri dari sepuluh orang, salah satu ketua regunya Alex Ticoalu, yang bersama Irawan bekerja untuk De Bevrijding.

Menurut Poeze, para anggota kelompok itu menamakan dirinya dari nama Pahlawan Nasional Untung Soerapati, sedangkan kesatuannya diberi nama Knokploegen (KP) atau Barisan Tangan Besi. “Kebanyakan mereka sudah mendapat pengalaman dalam spionase dan sabotase. Sesudah Irawan gugur, kelompok itu menggunakan nama Irawan,” tulis Poeze.

Anggota-anggota Perhimpunan Indonesia di Amsterdam juga berada dalam komando kelompok ini. Soenito memimpin kelompok Amsterdam ini berlatih menggunakan senjata dan latihan perang di jalanan. Karena kekurangan tenaga, menjelang Mei 1945, kelompok Soenito yang berjumlah tujuh orang dibubarkan.

Makam Irawan Soejono. (Joss Wibisono).

Pribadi Hangat

Di mata kawan-kawannya, Irawan berkarakter tertutup, namun pribadinya hangat dan berjiwa sosial tinggi. Soeripno mengenangnya, “dialah yang pertama kali muncul di mana ada kesulitan. Ia pergi jauh untuk mencari makanan bagi mereka yang lapar, ia menggergaji pokok pohon yang besar-besar untuk kayu bakar, ia memasakkan kami air dan memaksa kami makan apabila kami sampai pagi harus begadang untuk melakukan pekerjaan kami. Di balik suaranya yang menghardik kami mengenalinya sebagai kawan yang hangat.”

Menurut Soeripno, Irawan dua kali lolos dari razia tentara Nazi-Jerman. Suatu kali dia melarikan diri, lain kali dia melompat dari trem yang sedang berjalan. Namun, pada 13 Januari 1945, dia tertangkap. Ketika melarikan diri dengan sepeda sambil membawa mesin stensilan, dia ditembak tentara Nazi-Jerman.

“Ketika dia ditemukan berlumuran darah di jalan, gambaran yang diberikan orang ialah bahwa ia berpakaian lusuh, bersepatu penuh lubang, dan mengenakan pakaian penuh kotoran,” tulis Soeripno, yang sempat melihat jenazahnya di rumah sakit. “Ketika kami melihatnya terbaring di rumah sakit dengan lubang di kepala, begitu damai dan tenang, seorang dari kami masih menyangsikannya dan berbisik: tak mungkin dia mati.”

Pada 18 Januari 1945, Irawan dimakamkan sementara di Green Lane. Jenazahnya digali pada 14 November 1946, untuk dikremasi di Krematorium Westerveld Velsen.

Soeripno menutup in memoriam Irawan dengan catatan: “sepucuk senapan bodoh di tangan seorang pembunuh bodoh telah memotong jalan hidup seorang Indonesia yang belum lagi mencapai 25 tahun, yang semangatnya, pengabdiannya, rasa sosialnya, kerajinannya, dan kesederhanaannya, akan tetap menjadi contoh.”*

Buy Article
Punya usulan tema?
promo
Apa tema menarik yang menurut anda layak ditulis untuk Historia Premium
SUBSCRIBE TO GET MORE
If you have a topic that you would like to publish into the Historia Premium, write an abstract and propose it to the internal communication team!
Subscribe
61dd035df96feb03f800b713
65a506342a424836caf6f2b3