Kisah Pelanduk di Tengah Perang

Ratusan ribu orang tewas dalam empat tahun perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Sebagian besar rakyat sipil.

OLEH:
Hendi Jo
.
Kisah Pelanduk di Tengah PerangKisah Pelanduk di Tengah Perang
cover caption
Makam korban pembantaian militer Belanda di Takokak. (Hendi Jo/Historia.ID).

KOPRAL Kees mengeluh dalam catatan hariannya. Sebagai anak muda Belanda, dia merasa tak beruntung harus menghadapi situasi yang kerap mengguncangkan jiwanya selama bertugas di Indonesia. Puncaknya saat dia harus menyaksikan dua gadis kecil tengah menangis seraya memeluk tubuh kaku ibu dan adik kecil mereka di sebuah parit dangkal. 

“Keduanya terbunuh oleh satu peluru yang sama,” ujar Kees, dikutip Gert Oostindie dalam Serdadu Belanda di Indonesia 1945–1949.

Kendati belum ada angka pasti, korban jiwa di pihak Indonesia sekitar 100.000 jiwa. “Tapi kalau pun jumlah itu betul, sudah bisa dipastikan sebagian besar rakyat sipil yang kadang-kadang tak paham mengapa mereka harus mati,” ujar Gert kepada Historia.

KOPRAL Kees mengeluh dalam catatan hariannya. Sebagai anak muda Belanda, dia merasa tak beruntung harus menghadapi situasi yang kerap mengguncangkan jiwanya selama bertugas di Indonesia. Puncaknya saat dia harus menyaksikan dua gadis kecil tengah menangis seraya memeluk tubuh kaku ibu dan adik kecil mereka di sebuah parit dangkal. 

“Keduanya terbunuh oleh satu peluru yang sama,” ujar Kees, dikutip Gert Oostindie dalam Serdadu Belanda di Indonesia 1945–1949.

Kendati belum ada angka pasti, korban jiwa di pihak Indonesia sekitar 100.000 jiwa. “Tapi kalau pun jumlah itu betul, sudah bisa dipastikan sebagian besar rakyat sipil yang kadang-kadang tak paham mengapa mereka harus mati,” ujar Gert kepada Historia

Secara resmi, Belanda telah mengakui sebagai pelaku kejahatan perang seperti yang didefiniskan Konvensi Jenewa. Excessennota (Nota Ekses) tahun 1969, laporan resmi pemerintah Belanda mengenai kasus-kasus pelanggaran/penyimpangan yang dilakukan tentara Belanda, menyebutkan, dari 110 kasus kekerasan yang melibatkan serdadu Belanda di Indonesia, meliputi penyiksaan dan penembakan sewenang-wenang, satu di antaranya dilakukan terhadap warga sipil. 

Ironisnya, warga sipil itu belum tentu berpihak pada Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagaimana dituduhkan Belanda. Atjep Abidin (91), salah seorang veteran gerilyawan Indonesia, pernah menyaksikan sekelompok rakyat sipil yang tak memiliki keterkaitan dengan TNI digiring militer Belanda untuk dieksekusi. “Seperti kata peribahasa, mereka ibarat pelanduk mati di tengah-tengah dua gajah yang sedang bertarung,” ujarnya. 

Dua peristiwa yang paling terkenal terkait “ekses” adalah peristiwa pembantaian yang dipimpin Kapten R.P.P. Westerling di Sulawesi Selatan (1946–1947) dan insiden penembakan massal rakyat sipil oleh sekelompok tentara wajib militer Belanda di Rawagede, Karawang, Jawa Barat, pada 9 Desember 1947. Namun, sejatinya masih banyak insiden kekerasan oleh militer Belanda terhadap rakyat sipil yang belum terkuak. Dua di antaranya terjadi di Takokak (Jawa Barat) dan Temanggung (Jawa Tengah).

Bambang Purnomo. (Nugroho Sejati/Historia.ID).

Takokak: Pusat Eksekusi

Sebanyak 68 makam tak bernama tersebar rapi di suatu tanah tinggi. Pohon-pohon rasamala berdiri kokoh di sekitarnya, menaungi makam-makam bernisan putih itu dari sengatan matahari dan curahan hujan. 

“Hampir semua orang Takokak tahu bahwa yang dikuburkan di Bukit Cigunung Putri itu adalah korban pembantaian tentara Belanda zaman perang dulu,” ujar Andin Soebandi (78), mantan lurah di Takokak. 

Sejak lama Takokak dikenal sebagai pusat eksekusi orang-orang Indonesia dari wilayah Sukabumi dan Cianjur. Yusup Soepardi (92) masih ingat, sejak sebagian besar tentara Divisi Siliwangi hijrah ke Yogyakarta dan Jawa Tengah awal 1948, pembantaian kerap terjadi di Takokak. 

“Jika dulu ada seseorang dibawa ke Takokak, sudah bisa dipastikan dia tak akan kembali lagi,“ ujar Yusup, mantan anggota laskar yang pernah bertugas di Takokak. 

Ada beberapa titik yang menjadi tempat eksekusi di Takokak. Di antaranya di Jalan Lima, Puncak Bungah, Ciwangi, Pal Dua, Pasirtulang, dan Cikawung. Yusup pernah menyaksikan sekaligus mengevakuasi lima mayat korban eksekusi di Ciwangi. “Rata-rata mereka tewas dengan sebuah lubang peluru di tengkuk,” ujarnya. 

Atjep Abidin, ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) rayon Takokak, memiliki kisah sendiri. Sebagai eks tentara, dirinya mafhum bahwa orang-orang yang dieksekusi di Takokak mayoritas orang sipil. “Mereka sebelumnya dibon (diambil) dengan truk-truk militer dari penjara Van Helden di Gunung Puyuh, Sukabumi,” ujarnya. 

Pemimpin algojonya seorang Belanda totok. Namanya dikenal orang-orang Takokak saat itu sebagai Si Werling.

Sesampai di Takokak, para tahanan ditempatkan di kantor kecamatan atau pos militer Belanda di Bunga Melur. Setelah satu atau dua jam, mereka dibawa ke beberapa titik yang sudah disebutkan di atas untuk dihabisi. 

“Pemimpin algojonya seorang Belanda totok. Namanya dikenal orang-orang Takokak saat itu sebagai Si Werling. Orangnya kekar, tidak begitu tinggi, dan sering pakai baret berwarna hijau,” ujar Atjep. 

Dengan mata kepala sendiri, Atjep pernah melihat sekitar 15 lelaki digiring ke arah Jalan Lima oleh Werling dan seorang pengawalnya. Mereka digiring masuk hutan dengan kondisi diikat secara berantai ke belakang. “Waktu itu saya mengintai dari kejauhan dan melihat orang-orang itu diturunkan secara kasar dari truk militer di pertigaan Pasawahan,“ kenangnya. 

Berapa jumlah orang sipil yang menjadi korban pembantaian militer Belanda di Takokak? Hingga kini, belum ada informasi pasti. Namun, baik Yusup maupun Atjep yakin jumlahnya bisa mencapai ratusan orang. 

“Enampuluh delapan kerangka yang dimakamkan di Cigunung Putri itu baru yang berasal dari Puncak Bungah. Dari tempat-tempat lainnya kan belum digali,” ujar Atjep.

Jembatan tempat pembantaian militer Belanda di Temanggung. (Nugroho Sejati/Historia.ID).

Temanggung: Jembatan Maut

Jembatan tua itu tampak menyeramkan. Konstruksinya rapuh. Jalurnya bolong di sana-sini. Sekitar 50 meter di bawahnya, pemandangan Kali Progo menganga. Alirannya terlihat tenang, tanda memiliki kedalaman yang tak terduga. “Banyak orang bilang kawasan ini sangat angker,” ujar seorang tukang pecel lele yang mangkal sekitar jembatan itu. 

Sekitar dua meter dari mulut jembatan, tugu berwarna kelabu putih berdiri kokoh. Sebuah tanda peringatan bagi korban-korban pembunuhan yang dilakukan militer Belanda pada akhir 1948 hingga pertengahan 1949. Ada tulisan di dalamnya berbunyi: 

Aku ta’ ketjewa...

Aku rela…

Mati untuk tjita-tjita sutji nan mulja

Indonesia merdeka, adil, makmur dan bahagia.

Temanggung, 22/12-48–10/8-49

Tugu peringatan pembantaian militer Belanda di Temanggung. (Nugroho Sejati/Historia.ID).

Apapun yang tergores di tugu itu, dalam kenyataannya sebagian besar nyawa korban pembantaian diambil secara paksa. Menurut Bambang Purnomo (92), eks pejuang Temanggung, orang-orang yang dieksekusi sebagian besar rakyat sipil yang dianggap militer Belanda sebagai kaki tangan TNI. Padahal, tuduhan itu tak selamanya benar.

“Mereka mendatangi kampung, pasar, dan rumah warga yang dianggap secara sembarang sebagai orang-orang TNI lalu membawa ke jembatan dan langsung dieksekusi,” ujar Bambang, yang juga adik dari Panglima Divisi III Jawa Tengah Kolonel Bambang Sugeng.

Parto Dimedjo (78), salah satu saksi sejarah lainnya, membenarkan. Menurutnya, sejak militer Belanda menyerang Temanggung pada Desember 1948, eksekusi selalu terjadi di tepi jembatan itu. “Kalau mau berangkat ke sekolah, hampir setiap hari saya selalu melihat ceceran darah di sepanjang jembatan Kali Progo,” kenangnya. 

Suatu hari menjelang senja, saat tengah mengangon bebek, dia melihat sekumpulan tentara Belanda menyiksa seorang lelaki yang matanya tertutup secarik kain hitam. Demi melihat pemandangan itu, tanpa banyak cakap, Parto lari tunggang-langgang meninggalkan bebek-bebeknya. “Tapi belum jauh saya lari, sudah terdengar bunyi tembakan... Selanjutnya saya tidak tahu lagi nasib orang itu,” ujarnya dalam bahasa Jawa. 

Belum ada catatan resmi mengenai siapa saja korban yang tewas di sekitar jembatan Kali Progo. Penduduk sekitar jembatan rata-rata menyebut angka ratusan hingga ribuan. Sementara salah satu tugu peringatan di dekat jembatan menyebut angka 1.200 orang. 

Parto sendiri tidak berani menyebutkan kira-kira berapa jumlah korban pembantaian itu. Dia hanya ingat bahwa penembakan kerap terjadi. “Hampir setiap dua hari sekali, orang-orang sekitar jembatan itu, termasuk saya, selalu mendengar bunyi letusan senjata,” ungkapnya.

Kasus kekerasan militer Belanda di Indonesia (1946-1949). (Historia.ID).

Majalah Historia No. 33 Tahun III 2016

Buy Article
Punya usulan tema?
promo
Apa tema menarik yang menurut anda layak ditulis untuk Historia Premium
SUBSCRIBE TO GET MORE
If you have a topic that you would like to publish into the Historia Premium, write an abstract and propose it to the internal communication team!
Subscribe
61dd035df96feb03f800b713
648ae442e8d580e9fa5fafd2