Misteri Sulap

Berusia setua peradaban manusia, sulap pernah bersanding dengan sihir. Sulap modern masuk pada masa kolonial Belanda. Pesulap Indonesia umumnya keturunan Tionghoa.

OLEH:
Hendaru Tri Hanggoro
.
Misteri SulapMisteri Sulap
cover caption
Helmy Kodhyat sedang melakukan atraksi sulap. (Helmy Kodhyat/Historia.ID).

HELMY KODHYAT mengangkat tangan, memastikan tak memegang apapun. Tangan kirinya mengepal, sementara tangan kanannya menarik sesuatu dari kepalan tangan kiri. Sebuah sapu tangan keluar! Dia memasukkannya kembali ke tangan kiri. Lalu kepalan tangan terbuka. Dan... sapu tangan menghilang!

“Ini bukan sihir. Murni kecekatan tangan. Sederhana dan bisa dipelajari,” katanya.

Kodhyat, 76 tahun, menggemari sulap sejak kecil. Dia kerap melihat pertunjukan sulap. Antara lain di pasar malam di Surabaya pada 1950-an. Seorang pesulap melempar tongkat, lalu tongkatnya jadi ular. Kodhyat kecil penasaran. Perasaan ini terus mengendap hingga dia jadi mahasiswa di Bandung. “Saya mulai belajar sulap,” ujarnya.

Di rumahnya, Kodhyat memiliki sebuah rak besar di ruang tamu yang memuat ratusan buku dari beragam tema. Termasuk sulap, terbitan dalam maupun luar negeri. Bahasannya tak melulu sejarah sulap, melainkan juga filosofi, jenis, teknik penyajian, dan trik sulap. Dia fasih menerangkan beberapa isi buku itu.

HELMY KODHYAT mengangkat tangan, memastikan tak memegang apapun. Tangan kirinya mengepal, sementara tangan kanannya menarik sesuatu dari kepalan tangan kiri. Sebuah sapu tangan keluar! Dia memasukkannya kembali ke tangan kiri. Lalu kepalan tangan terbuka. Dan... sapu tangan menghilang!

“Ini bukan sihir. Murni kecekatan tangan. Sederhana dan bisa dipelajari,” katanya.

Kodhyat, 76 tahun, menggemari sulap sejak kecil. Dia kerap melihat pertunjukan sulap. Antara lain di pasar malam di Surabaya pada 1950-an. Seorang pesulap melempar tongkat, lalu tongkatnya jadi ular. Kodhyat kecil penasaran. Perasaan ini terus mengendap hingga dia jadi mahasiswa di Bandung. “Saya mulai belajar sulap,” ujarnya.

Di rumahnya, Kodhyat memiliki sebuah rak besar di ruang tamu yang memuat ratusan buku dari beragam tema. Termasuk sulap, terbitan dalam maupun luar negeri. Bahasannya tak melulu sejarah sulap, melainkan juga filosofi, jenis, teknik penyajian, dan trik sulap. Dia fasih menerangkan beberapa isi buku itu.

Lie Giap Hien, pemuda sebaya Kodhyat, juga tertarik sulap. Seperti Kodhyat, dia melek sulap di Bandung. “Saat itu saya belajar sulap sesungguhnya,” kata Lie, kini dipanggil Mister Lie, 74 tahun.

Kelak Kodhyat dan Lie bertemu pada 1980-an. “Kami ingin sulap seperti di Eropa dan AS. Bisa jadi seni pertunjukan dan memancing daya berpikir masyarakat,” ujar Mister Lie.

Jalan ke sana tak mudah. Sebab pertunjukan sulap di Indonesia tertinggal jauh dari pertunjukan di Eropa dan AS. Di dua wilayah ini sulap berevolusi; menjauhi takhayul, magis, sihir, perdukunan, dan kegaiban.

Pesulap Helmy Kodhyat, 1963. (Helmy Kodhyat/Historia.ID).

Sihir dan Sulap

“Sulap berusia setua peradaban manusia, tapi ia selalu baru,” terang Kodhyat, mengutip adagium masyhur dalam dunia persulapan. Buktinya tersua pada guratan di dinding perkuburan Beni Hasan masa Mesir Kuno, sekira 4000 tahun lalu. Seseorang tampak memainkan empat cangkir. Di dalam cangkir ada bola. Melalui kecekatan tangan si pemain, bola itu bisa berpindah.

Westcar Papirus –kini tersimpan di Museum Bode di Berlin, Jerman– juga merekam bentuk sulap di Mesir Kuno pada 1700 SM. Kala itu rakyat Mesir sedang membangun piramida untuk rajanya, Cheops. Suatu hari Cheops jenuh menunggu pembangunan piramida. Dia butuh hiburan. Para abdi tahu kemauan rajanya. Mereka memanggil seorang penyihir-penghibur bernama Dedi. “Dia terkenal bisa melepas-pasang beberapa kepala binatang,” tulis Milbourne Christopher dalam Magic: A Picture History.

Cheops dan penyaksi pertunjukan itu tercengang. Mereka memang bisa membangun piramida, tapi tak mengetahui cara Dedi melepas-pasang kepala binatang. Mereka berpikir Dedi menguasai sihir. Padahal Dedi punya kelemahan. Dia tak bisa melepas-pasang kepala seorang tahanan Cheops.

Alasan Dedi sederhana. “Sangat terlarang menunjukkan itu di depan orang-orang terhormat,” tulis Milbourne. Para penyaksi, termasuk Cheops, mempercayai alasan itu. Mereka menghormati penyihir karena kelebihannya dalam meramal nasib, meminta hujan, dan memanggil arwah leluhur.

Sihir mengungkung pula alam pikiran orang Yunani dan Romawi Kuno. Segala hal tak terjawab berujung pada sihir dan kekuatan supranatural. Penyulap dan penyihir berarti serempak. “Penyihir yang bisa menghibur disebut planoi atau thaumatopoioi. Kerapkali sulit terpisah dengan goetes (penyihir atau dukun yang bisa memandu arwah orang mati),” tulis Matthew W. Dickie dalam Magic and Magicians in the Greco Roman World. Mereka muncul pada abad ke-5 SM dan berpindah dari satu kota ke kota lain demi bayaran.

Kerja planoi sangat sederhana: bikin orang takjub. Caranya dengan berakrobat, menghidupkan boneka, dan bermuslihat. Begitu orang takjub, kuasa dan kepercayaan orang lain dalam genggaman mereka. Mereka bisa berlakon layaknya pemuka agama. “Dalam masyarakat lampau, pesulap berarti pemuka agama,” tulis Paul Carus dalam kata pengantar The Old and The New Magic.

Keadaan berbalik memasuki masa awal penyebaran agama Kristen. Pesulap dan penyihir mulai masuk daftar hitam. Pemuka agama menilai mereka kaum pagan, penyembah berhala, pembawa bencana, dan perusak moral. Khalayak terpengaruh pandangan itu. Akibatnya pertunjukan sulap tak laku.

Sebagai jawaban, pesulap berusaha membuktikan diri bahwa mereka berbeda dari penyihir. “Mereka mengakui segala trik bisa dilakukan secara alamiah,” tulis Max Dessoir dalam “Psychology of the Art of Conjuring”, termuat di Around The World with a Magician and a Juggler karya H.J. Burlingame. Usaha mereka baru berbuah pada abad ke-15, serentak dengan pergeseran paradigma dari mistis ke logis. Cara berpikir ilmiah ganti mendominasi. Ilmu pengetahuan jadi panglima.

Pesulap tampil bukan cuma dengan kecekatan tangan, tapi juga memakai alat dan mesin khusus. Mereka menerapkan prinsip ilmu pengetahuan untuk mengangkat telur dari gelas, mengubah ruangan seolah-olah terbalik (ilusi), menghasilkan gambar di ruang gelap (magic lantern), dan memotong orang dalam peti. Pesulap tak menjelaskan detailnya pada penonton, tapi mengatakan pertunjukan mereka bisa dijelaskan lewat ilmu pengetahuan. Khalayak menyukainya.

Gambaran awam tentang pesulap pun berubah. Pesulap sejajar dengan fisikawan, kimiawan, dan saintis lainnya. Mereka mulai berani keluar lintas benua bersama rombongan sirkus dan teater. Mereka menggelar pertunjukan di jalan dan pusat keramaian.

Revolusi sulap muncul pada abad ke-19. Eugene Robert-Houdin, pesulap Prancis, menyerukan pesulap tampil di panggung atau gedung khusus. Dia juga melawan takhayul, mengusung teknologi, dan mendorong sulap jadi salah satu cabang seni pertunjukan; cerdas dan berkelas. Ide ini sampai ke Hindia Belanda dan menyaingi “sulapan” lokal.

Pesulap Lie Giap Hien atau Mister Lie. (Hendaru Tri Hanggoro/Historia.ID).

Masuk Hindia Belanda

Penduduk lokal Hindia Belanda berkarib lama dengan hiburan keliling. Buktinya termaktub dalam beberapa panel relief di Candi Borobudur berlatar abad ke-9. Rombongan seniman keliling singgah di pasar untuk menghibur pengunjung. Mereka menyuguhkan nyanyian, tarian, musik, lawakan, dan akrobat.

Pertunjukan akrobat cukup unik. Seorang pria menahan sebalok kayu di mulutnya. Kepalanya mendongak. Balok itu berdiri seimbang. Cukup bikin penonton terkesima. Titi Nastiti dalam Kedudukan dan Peranan Perempuan dalam Masyarakat Jawa Kuna, disertasi arkeologi pada Universitas Indonesia, menyebut akrobat boleh jadi semacam sulap masa lampau. Sebab akrobat menghadirkan sensasi tontonan seperti sulap: rasa terkejut, takjub, heran, dan penasaran.

Tontonan lain seperti gambus, jaran kepang, debus, reog, dan kerasukan meninggalkan kesan magis pada penonton. Pertunjukan keliling ini berkembang pada abad ke-17 di beberapa wilayah Jawa. Bentuknya antara lain makan beling, kekebalan tubuh, dan benda mati bisa hidup sendiri. Khalayak menilai pertunjukan itu “aneh”, bukan “heran”.

Matthew Cohen, peneliti teater populer Indonesia, dalam The Komedie Stamboel: Popular Theater in Colonial Indonesia 1891–1903 menyebut “aneh” lekat dengan perdukunan dan mistifikasi. Tontonan itu berhasil karena kekuatan supranatural. Selalu bersifat magis; jauh dari penjelasan logis.

Para pujangga keraton Surakarta mengabadikan fenomena itu dalam serat Centhini –ditulis pada 1814–1823. Beberapa bagian Centhini mengisahkan rombongan pengelana abad ke-17. Nama pemimpinnya Cebolang. Dia mahir menghidupkan benda dan orang mati, mengubah rupa sebuah objek, dan membuat ilusi mengerikan. Musik, tari, dupa, dan gending mengiringi pertunjukannya. Paduan ini memberi penonton kenikmatan. Kesadaran dan daya pikir mereka sirna. Bersanggama di tempat umum pun jadi.

“Apakah sulapan adalah kata yang tepat untuk tontontan itu?” tanya Benedict Anderson dalam Kuasa-Kata: Jelajah Budaya Politik Indonesia. Dia sendiri meragukannya. “Pertama-tama, sulapan bukanlah peristiwa supranatural ataupun diakibatkan oleh kesurupan.” Dia juga menambahkan, “sulapan secara mencolok melibatkan kosakata teknologi dan teknik tertentu.” Maka Anderson menyebut Cebolang lebih sebagai pemagis (magician) ketimbang pesulap (conjurer).

Khalayak Hindia Belanda baru benar-benar mengenal sulap pada paruh terakhir abad ke-19. Negeri ini jadi tanah subur bagi pertunjukan hiburan dari India, Tiongkok, dan Eropa. Pembangunan jalan kereta api dan jaringan komunikasi mendorong sejumlah seniman keliling (komedi dan sirkus) datang ke negeri ini. Bersama mereka datang pula pesulap.

J. Calabressini, seorang penghibur dari Eropa, tiba di Hindia Belanda pada 1870. Serupa Robert-Houdin, dia mengusung sulap modern. Dia mahir menarik benda tanpa menyentuhnya (magnetisme), merekayasa psikologi dan kesadaran (hipnosisme), dan membuat sensasi setrum pada manusia (galvanisme). Semua triknya berhubungan dengan tren ilmu pengetahuan saat itu. Alhasil namanya cepat kesohor. Khalayak menyebutnya “profesor”.

Calabressini juga menawarkan suguhan lain. “Dalam pertunjukannya, dia menggabung trik sulap dengan temuan teknologi terbaru dari Eropa,” tulis Suryadi dalam “The Talking Machine Comes to the Dutch East Indies”, termuat di KITLV Journals No. 162 tahun 2006. Dia tampil dalam gedung pertunjukan di Surabaya dengan “mesin bicara” (fonograf), sesuatu yang amat langka di Hindia Belanda. Musik, sedikit humor, dan seting panggung membalut suguhannya.

Khalayak heran, tapi tak menganggap tontonan itu aneh. Menurut Cohen, tontonan heran berbeda dari aneh. “Heran meliputi kebingungan, keterkejutan, keingintahuan, dan kekaguman; misteri dan keindahan,” tulis Cohen. Pendeknya, merangsang daya pikir orang. Sensasi ini bikin khalayak beranjak dari tontonan “sulap” lokal. Begitu pula dengan pers. “Sulap” lokal pun terpojok.

Berita dan iklan pertunjukan sulap asing terpampang di suratkabar. “Penulis suratkabar dan korespondennya secara jelas dan konsisten menunjukkan kesadaran terhadap pertunjukan khusus dan orisinil, apa yang telah tersebar, dan menjadi umum,” tulis Cohen. Harian Selompret Melajoe pada 14 Oktober 1893 bahkan menyingkirkan penampil “sulap” dari Jawa dan Madura. Penampil fakir –sulap dari India– malah dapat porsi berita.

Pouw Tek Tjoan, guru sulap di School of Magic Bandung. (Helmy Kodhyat/Historia.ID).

Kemenangan Sulap Modern

Tak mau hanya jadi penonton, penduduk lokal coba belajar sulap modern. Mereka umumnya keturunan Tionghoa. “Waktu saya kecil, tahun 1940-an, saya lebih sering melihat pesulap Tionghoa. Kalau yang asing, orang India,” kata Kodhyat. Mister Lie menambahkan, “Guru saya, Pouw Tek Tjoan, keturunan Tionghoa. Kemungkinan dia belajar dari orang Belanda.”

Melalui apa mereka belajar sulap modern? “Entahlah. Saya tak tahu apakah ada semacam kursus atau sekolah khusus sulap ketika itu?” kata Mister Lie. Mungkin mereka berguru langsung. Seperti cerita Mr. Hosein dari Aceh.

Hosein bekas prajurit Teuku Umar, salah seorang pemimpin rakyat Aceh. Usai Aceh takluk dari Belanda, dia merintis jalan sebagai kelasi kapal sehingga bisa berlayar sampai Amerika Serikat. “Disitoe saja bertemoe dengan seorang toean goeroe hypnotisme itoe,” kata Hosein, seperti tertulis dalam Doenia Pengalaman Hoeloebalang Teukoe Oemar karya A Damhoeri, terbit pada 1939. Dari belajar langsung, dia menguasai hipnosisme dan telekinesisme (kekuatan pikiran untuk menggerakkan benda).

Sadar pembelajaran sulap modern belum berkembang di masyarakat, sekelompok pesulap merasa terpanggil. Pipih Sutanto (Tan Tek Hok) menghimpun sejumlah pesulap ke dalam Persatoean Achli Soenglap Indonesia (Pasoengi) pada pertengahan 1950-an. Tujuannya agar pesulap kasih pembelajaran sulap modern secara teratur pada masyarakat.

Ang Tek Tjwan, pesulap di Jakarta, memilih cara praktis. Dia mendirikan lembaga Magic Centre pada 1959. Produknya berupa buku-buku panduan, alat, dan kursus sulap. Inovasi ini menjalar hingga ke Bandung dan Semarang. Akses belajar masyarakat jadi lebih terbuka.

Mister Lie menilai peran lembaga-lembaga itu sangat besar. “Sebelumnya saya tahunya sulap ya sungguhan. Saya bisa hilangkan kertas. Saya makan kertas itu betulan. Hilang. Padahal sulap justru bukan sungguh-sungguh,” kata Mister Lie.

Harry Susanto, seorang dokter di Semarang, punya nada serupa. Dia belajar sulap melalui lembaga Aladin dan Aneka Gaja di Semarang pada 1960-an. Dari sana dia tahu bagaimana menyajikan sulap. “Sulap adalah suatu seni,” kata Harry kepada Historia melalui e-mail.

Pesulap lokal lalu bermunculan. Uniknya, minat masyarakat justru tertumbuk pada pesulap asing. Presiden Sukarno bahkan menerima Celeste Evan, perempuan pesulap asal AS, dan Fred Caps, pesulap Belanda, di Istana Merdeka pada 1962 dan 1965. Pesulap lokal paling banter main di Taman Ismail Marzuki.

Saat klub malam menjamur di Jakarta pada 1969, citra pesulap lokal sedikit terangkat. Mereka beroleh kesempatan unjuk diri. TVRI pun tak ragu mengundang dan menampilkan mereka. Tapi mereka jarang menampilkan kebaruan. “Pesulap Indonesia di TVRI lamban, terlalu takut kebongkar rahasia, sok pintar, dan sok pamer,” kritik Kodhyat dalam Kompas, 24 Januari 1970.

Pesulap Helmy Kodhyat. (Hendaru Tri Hanggoro/Historia.ID).

Kodhyat terpikir cara untuk mengembangkan kemampuan pesulap lokal. Kebetulan dia wartawan Kompas. Dia punya ruang menulis di sana. Maka dia bikin rubrik “Sim Salabim” pada 1979. “Waktu itu reaksi pesulap gempar. Usaha saya malah dicaci. Dianggap bisa bongkar rahasia. Padahal saya ingin merangsang munculnya inovasi,” kata Kodhyat.

“Sim Salabim” hanya bertahan hingga 1982. Mister Lie, pembaca setia rubrik “Sim Salabim”, kecewa. Dia mendatangi Kodhyat. “Omong-omong sama dia, kita terpikir cara lain. Bersama dokter Harry, Kodhyat, dan kawan-kawan lain, kami mendirikan Perhimpunan Pecinta Seni Sulap Indonesia (PPSI) atau The Society of Indonesian Magician (SIM),” ujar Mister Lie.

Semangat SIM berbeda dari organisasi pesulap sebelumnya seperti Pasoengi. SIM lebih bertumpu pada pesulap; bagaimana pesulap bisa membangun jaringan, mendapat informasi, dan beroleh inovasi. Maka mereka berlangganan majalah sulap terkemuka AS, The Linking Ring. Mereka juga mendaftar sebagai cabang dari International Brotherhood of Magician (IBM).

“Kode etik pesulap juga dirancang,” kata Mister Lie. Sebab, saat itu banyak pesulap mengaku punya kekuatan gaib dan mistik. “Padahal itu tidak boleh dan justru merusak sulap dan cara berpikir masyarakat,” tambah Kodhyat.

Kedatangan David Cooperfield, pesulap besar asal AS, ke Indonesia melapangkan jalan SIM menuju cita-citanya. Pers menyorot peristiwa ini besar-besaran. SIM menggunakan momen ini untuk mengenalkan pesulap-pesulap inovatifnya. Mereka tampil di televisi dan meraih kepercayaan khalayak. Sayang, krisis moneter menerpa pada 1997. SIM vakum. Pesulap menempuh jalan masing-masing. Salah satunya Deddy Corbuzier.

Deddy membawa suguhan lain. Dia tampil dengan setelan unik: serba hitam dan rambut ala Kaisar Ming dalam film Flash Gordon. Mengesankan kemisteriusan, tapi bukan kegaiban. Dia menyebut dirinya mentalis, bukan pesulap. Pertunjukannya gabungan teknologi, trik, dan seni pertunjukan seperti tari dan musik. Cara ini berhasil menarik perhatian khalayak.

Mister Lie dan Kodhyat cukup senang melihat perkembangan pertunjukan sulap dan pesulap lokal sekarang. Tapi cita-cita mereka belum tuntas. “Kita belum punya industri sulap dan gedung pertunjukan khusus,” kata Kodhyat. Mister Lie berharap Indonesia punya museum sulap. “Tapi itu sulit. Dukungan kurang, baik dari pesulap atau pemerintah,” kata Mister Lie.

Paling tidak, sebagian cita-cita mereka tergapai. Sulap kini kian terpisah dari kungkungan sihir, mistik, dan supranatural.*

Majalah Historia No. 17 Tahun II 2014

Buy Article
Punya usulan tema?
promo
Apa tema menarik yang menurut anda layak ditulis untuk Historia Premium
SUBSCRIBE TO GET MORE
If you have a topic that you would like to publish into the Historia Premium, write an abstract and propose it to the internal communication team!
Subscribe
61dd035df96feb03f800b713
656bef4afe205002d04d88b4
X

Pengumuman

Website Historia.ID Premium akan dinonaktifkan per akhir Februari 2025 karena kami sedang melakukan migrasi konten ke website Historia.ID

Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.

Terima kasih
Historia.ID