Penggerak Orang Mudik

Jutaan orang Indonesia mudik ke kampung halaman setiap menjelang Lebaran pada hakikatnya digerakkan oleh satu kata: rumah.

OLEH:
Muhammad Yuanda Zara
.
Penggerak Orang MudikPenggerak Orang Mudik
cover caption
Kaum perempuan mempersiapkan masakan dalam rangka menyambut Hari Raya Idulfitri yang menandai berakhirnya bulan Ramadan di Sumatra Barat pada masa kolonial. (Wereldmuseum).

BARU-baru ini, Kementerian Perhubungan menyebut Hari Raya Idulfitri tahun 2024 diperkirakan sekitar 193,6 juta orang Indonesia (setara dengan 71,7% penduduk Indonesia) akan mudik (antaranews.com). Ini angka yang sangat besar, dan, bila terwujud, akan menjadi Lebaran dengan pemudik terbanyak dalam sejarah Indonesia.  

Kemenhub juga melakukan survei terhadap 47.107 responden yang tersebar di 38 provinsi, dan menanyakan alasan mengapa mereka mudik. Tiga alasan terbesar adalah untuk merayakan Idulfitri di kampung (52% responden), berkunjung ke keluarga di kampung (35,2%), dan berwisata (10,6%). Apa yang bisa kita persepsikan dari angka-angka ini, terutama dari tinjauan sejarah?

Pada hakikatnya, alasan prinsipil yang menggerakkan hampir 200 juta orang Indonesia berakar pada satu kata: rumah, atau lebih tepatnya, rumah di kampung halaman. Rumah di sini bukan hanya konstruksi bangunan, yang terdiri atas fondasi, dinding, lantai, pintu, jendela, ventilasi hingga atap, tetapi lebih dari itu.

BARU-baru ini, Kementerian Perhubungan menyebut Hari Raya Idulfitri tahun 2024 diperkirakan sekitar 193,6 juta orang Indonesia (setara dengan 71,7% penduduk Indonesia) akan mudik (antaranews.com). Ini angka yang sangat besar, dan, bila terwujud, akan menjadi Lebaran dengan pemudik terbanyak dalam sejarah Indonesia.  

Kemenhub juga melakukan survei terhadap 47.107 responden yang tersebar di 38 provinsi, dan menanyakan alasan mengapa mereka mudik. Tiga alasan terbesar adalah untuk merayakan Idulfitri di kampung (52% responden), berkunjung ke keluarga di kampung (35,2%), dan berwisata (10,6%). Apa yang bisa kita persepsikan dari angka-angka ini, terutama dari tinjauan sejarah?

Pada hakikatnya, alasan prinsipil yang menggerakkan hampir 200 juta orang Indonesia berakar pada satu kata: rumah, atau lebih tepatnya, rumah di kampung halaman. Rumah di sini bukan hanya konstruksi bangunan, yang terdiri atas fondasi, dinding, lantai, pintu, jendela, ventilasi hingga atap, tetapi lebih dari itu.  

Joanna Richardson, profesor di bidang perumahan dan masyarakat di Universitas De Montfort, Inggris, dalam bukunya, Place and Identity: The Performance of Home (2019: 1), menyebut bahwa “rumah adalah suatu perasaan, bukan struktur” dan “kita membentuk rumah dan rumah membentuk kita”.  

Rumah yang ideal bagi keluarga muslim disebut sebagai baiti jannati (rumahku surgaku). Di Barat, rumah idaman identik dengan konsep home sweet home. Dalam bahasa Inggris, dibedakan antara house yang lekat dengan fisik gerha dengan home yang mengacu pada jiwa.

Bahkan, ketika teknologi sudah sangat canggih, orang tetap tidak bisa melupakan “rumah”. Di setiap laptop ataupun telepon genggam selalu ada tombol atau key bernama home, yang dengan mengetuknya pengguna dapat masuk ke bilik-bilik virtual penting, seperti aplikasi, program, dan lain-lain. Rumah yang tidak memberikan kenyamanan membuat penghuninya bagai burung di dalam sangkar. Ketiadaan rumah, atau menjadi tunawisma (homelessness), adalah suatu hal yang sangat ditakuti orang.  

Romantisnya Rumah

Rumah di kampung adalah rumah yang menenangkan, romantis, dan senantiasa memanggil-manggil untuk didatangi setiap Lebaran, yang setiap sudutnya membawa memori pada masa kecil yang indah dan penuh tawa. Suatu hal yang bagi perantau di kota besar merupakan penawar menyejukkan bagi hati yang lelah dan fisik yang letih membanting tulang sebagai kaum urban.  

Rumah mendorong jutaan orang Indonesia, dalam waktu yang hampir bersamaan, berbondong-bondong dengan penuh semangat menghadapi berbagai rintangan demi sampai ke sana. Perjalanan pulang ke rumah menjelang Lebaran tidaklah gampang; suatu tantangan finansial, fisikal, logistik, dan mental yang serius. Semua kesulitan itu seakan sirna ketika orang mencapai tujuannya: rumah. Negara bahkan sampai turun tangan untuk membantu agar kaum urban sampai ke rumahnya dengan aman dan nyaman.  

Kegiatan-kegiatan selama Lebaran hampir sepenuhnya terpusat pada rumah. Beberapa pola umum dalam tradisi Lebaran menjadikan rumah sebagai poros aktivitas: perantau yang datang dari kota akan mengunjungi rumah orang tuanya; Lebaran dipusatkan di rumah nenek-kakek; sebelum dan sesudah salat Id, semua anggota keluarga akan berkumpul di tengah rumah; sebelum atau sesudah salat Id, akan diadakan ziarah ke makam nenek moyang, yang tak jarang berada di area sekitar rumah; makan-makan Lebaran diadakan di rumah; setelah makan di rumah sendiri, selanjutnya bersilaturahmi ke rumah-rumah sanak saudara dan tetangga. Praktis, orang menghabiskan sebagian besar waktu Lebaran dan liburan di rumah.

Rumah adalah elemen kunci yang membentuk identitas orang Indonesia modern. Merantau dari desa atau kota kecil ke kota besar, lalu sukses kemudian pulang saat Lebaran, adalah gambaran kesuksesan paripurna bagi banyak orang Indonesia. Pepatah Minang yang menyuruh anak mudanya untuk merantau dikaitkan dengan imajinasi tentang rumah: Karatau madang di hulu, babuah babungo balun, ka rantau bujang dahulu di rumah paguno balun. Artinya, kalau anak muda merasa belum bisa apa-apa di rumah atau di kampungnya, maka cobalah mengadu nasib di perantauan.  

Rindu Rumah

Di saat Lebaran, rumah merupakan salah satu pemanggil paling kuat bagi para perantau, yang dengan tiba-tiba memberikan mereka energi ekstra untuk melewati halangan-halangan untuk pulang: jarak, waktu, dana, tenaga, dan niat.  

Gagasan menarik tentang relasi rumah dan Lebaran dikemukakan oleh penulis Abd Choliq Chambali dalam artikelnya, “Bila Mereka Kembali”, di surat kabar terbitan Yogyakarta, Kedaulatan Rakyat, 11 Agustus 1980, sehari sebelum Lebaran tahun 1980. Ia mengindentikkan kampung halaman sebagai “rumah” yang esensial bagi para perantau, yang selalu mereka rindukan sepanjang tahun saat mereka bekerja di kota (walaupun di kota mereka sudah punya rumah juga).

Bagi Chambali, pulang ke “rumah” jelang Lebaran bukan hanya perjalanan badan, tetapi memiliki makna yang jauh lebih dalam, yakni suatu perjalanan pembebasan. Mengapa demikian? Para perantau ini, terutama yang berasal dari kelas bawah, selama setahun (atau bertahun-tahun) terkungkung di bawah terungku bernama tekanan hidup, dengan mati-matian mencari nafkah di kota, adakalanya sampai lupa dengan istirahat dan hiburan. Jadi, pulang ke “rumah” saat Lebaran adalah usaha melepaskan diri dari belenggu-belenggu itu.  

Rumah di kampung adalah ruang bebas mereka, dengan orang tua dan sanak famili sebagai pembebas mereka dari “penyanderaan” oleh kota. Kota, sekalipun luas dan penuh fasilitas, tak jarang dipandang sebagai kerangkeng jiwa, sementara rumah di kampung, sekalipun kecil dan sederhana, dianggap sebagai lapangan luas yang membawa kebahagiaan besar, setidaknya sekali setahun.

Tema tentang rumah di kampung halaman yang tak juga didatangi para perantau saat Lebaran bahkan menjadi perhatian media massa, merefleksikan harapan umum tentang perlunya rumah ditengok di hari raya. Koran Kedaulatan Rakyat, 21 September 1976, pada empat hari menjelang Lebaran tahun 1976 menangkap suasana hati yang muram di antara para orang tua di Gunungkidul. Dilaporkan bahwa pada saat itu ibukota Gunungkidul, Kota Wonosari, masih sepi dari dua hal yang menandai kemeriahan menjelang Lebaran di tahun-tahun sebelumnya: bunyi petasan di seantero kota dan ramainya bus-bus dari Yogyakarta membawa perantau Gunungkidul, termasuk para mahasiswa, dari Jakarta dan Yogyakarta. Ada atmosfer kesedihan di hati para orang tua di Gunungkidul dan terbersit harapan agar putra-putra Gunungkidul segera pulang ke rumah orang tua mereka menjelang Lebaran lantaran “sanak keluarga Gunungkidul pun sebagian besar sedang menanti putra2 ataupun familinya yang sudah lama mereka rindukan.”  

Salah satu bagian rumah yang sangat dirindukan oleh para perantau saat Lebaran adalah dapur dan ruang makan. Mereka, yang dulu tumbuh dengan masakan rumahan, masih mengingat setiap detail tentang dapur, jenis dan lokasi perkakas-perkakasnya, serta yang terpenting, bau masakan ibu atau nenek di dapur. Bukan tidak umum bagi orang Indonesia untuk mendapatkan bahan masakan langsung dari halaman belakang rumah, dan setelah diolah lalu disantap oleh semua anggota keluarga.  

Makanan-makanan yang dimasak di dapur, sekalipun tradisional, bagi banyak perantau merupakan comfort food (makanan yang menenangkan), yang bau, tekstur, dan rasanya terasa otentik. Berlebaran di Jawa bagian tengah, umpamanya, tak lengkap tanpa ketupat, opor ayam dan sambal goreng ati ampela (ditambahkan emping lebih nikmat lagi). Nasi timbel dan karedok merupakan santapan rumahan khas Lebaran di Jawa Barat.  

Di Sumatra Barat, Lebaran ekuivalen dengan makan rendang dan lamang tapai (semakin lamak bana bila selepas itu dilengkapi pula dengan memamah durian). Praktis, di berbagai daerah di Indonesia selalu ada menu yang identik dengan Lebaran, atau lebih tepatnya, dengan makan bersama keluarga di rumah di hari Lebaran.  

Dapur juga menjadi area di mana pengetahuan soal kuliner dan kultur keluarga dibagi dan ditransmisikan dari anggota keluarga yang tua ke yang muda. Makanan kampung menjadi kenikmatan tersendiri bagi indera pengecap para perantau setelah di kota mereka mungkin makan dengan makanan yang secara budaya asing atau berasal dari makanan olahan atau makanan beku.  

Beberapa kue lebih pas bila dimakan bersama keluarga pas Lebaran, misalnya nastar, lidah kucing, kastengel, dan putri salju. Adakah di antara pembaca dari generasi 1990-an yang dulu bila bertemu dengan kue monas (dikenal juga sebagai kue gemrose, kue seperti kancing dengan lapisan gula warna-warni di atasnya) hanya mengambil icing-nya yang beraneka warna dan meninggalkan lapisan bawahnya? Itu terjadi di rumah di hari Lebaran.  

Memakan makanan rumahan bikinin ibu atau nenek di hari Lebaran terasa sangat spesial karena adanya perasaan nostalgia yang membuai di sana. Suatu perasaan yang sulit didapatkan selama di kota sekalipun makanan serupa juga dijual di sana. Dalam bahasanya Moya Kneafsey, Damian Maye, Lewis Holloway, dan Michael K. Goodman di buku Geographies of Food: An Introduction (2021: 5): “begitu kuatnya interaksi kita dengan makanan sampai-sampai bau dari makanan tertentu dapat membangkitkan berbagai kenangan (baik bahagia maupun sedih) dari masa kecil.”

Rumah lain di kampung halaman yang juga dirindukan para pemudik menjelang Lebaran adalah rumah Tuhan. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang publik, di mana persoalan-persoalan umat dan masyarakat dibicarakan serta menjadi pusat dari berbagai aktivitas komunitas. Di kampung halaman, yang sifatnya komunal, masjid, musala atau surau, menjadi tempat yang juga ingin didatangi para pemudik. Mereka ingat ketika semasa kecil salat tarawih atau salat Subuh di sana, lengkap dengan segala dinamikanya, misalnya anak-anak bermain petasan ketika jamaah sedang taraweh, atau anak muda berjalan-jalan mencari angin selepas salat Subuh.  

Cendekiawan muslim Soetjipto Wirosardjono, dalam sebuah tulisannya, “Budaya Lebaran”, di Gatra, 4 Maret 1995, menjelang Lebaran tahun 1995 mengemukakan bahwa ia ditanya oleh kenalannya di mana ia akan salat Id. Bagi Sotejipto, yang tinggal di kota tetapi mengaku memiliki budaya yang kampungan, ini adalah pertanyaan yang aneh, karena selama ia dulu di kampung ia selalu salat Id di tempat terdekat, yang berarti di masjid kampung. Saking sudah menjadi tradisi untuk salat di masjid kampung, ia sampai hafal dengan siapa saja jamaah salat Id dan dengan siapa sang imam (yang hampir tidak pernah digantikan imam lain), termasuk dengan cengkok, nada dan pilihan surat sang imam. Masjid di kampung, dengan demikian, identik dengan kedekatan, keakraban, dan komunalitas. Dan, bagi sebagian kaum urban, takbiran yang paling syahdu dan memesona adalah takbiran dari masjid kampung semasa mereka kecil.

Rumah, Lebaran, dan Budaya Populer

Iklan-iklan di media massa menekankan pentingnya rumah di hari Lebaran. Tengok saja iklan-iklan sirup, susu atau biskuit jelang Lebaran, yang menjadikan momen kebersamaan di rumah saat Lebaran sebagai suasana utamanya. Di majalah Tempo, 20 Maret 1993, menjelang Lebaran tahun 1993, dalam satu halaman penuh berwarna ada iklan handycam Sony. Iklan itu memiliki slogan “Lebaran jadi lebih berkesan dengan Sony handycam di tangan”, dan dari enam foto grup di iklan itu, semuanya mencerminkan suasana keluarga di rumah di waktu Lebaran, seperti anak sungkem pada orang tua, keluarga menonton televisi bersama, dan para anggota keluarga yang terdiri atas tiga generasi sedang berkumpul di ruang tamu rumah sambil menikmati camilan khas Lebaran. Semuanya tersenyum, dan citra yang dibangun iklan ini adalah semua anggota keluarga berbahagia ketika berlebaran bersama di rumah di kampung halaman (dan, kebahagiaan itu, menurut pengiklan, perlu diabadikan dengan handycam Sony).

Di era digital, salah satu iklan yang paling banyak ditonton di YouTube adalah iklan Lebaran toko ritel Ramayana, yang bertajuk #KerenLahirBatin Menyambut Lebaran. Tema utama iklan itu adalah mudik ke rumah masa kecil (dengan membeli baju di Ramayana untuk bingkisan bagi keluarga di kampung, kalau kita ikuti alur advertensinya). Dirilis di televisi pada 2018 dan diunggah ke YouTube setahun setelahnya, hingga Maret 2024 iklan di YouTube telah ditonton lebih dari 17 juta kali. Iklan itu memperlihatkan seorang perantau yang galau kalau-kalau tidak bisa membawa oleh-oleh Lebaran kepada sanak saudara di kampung halaman. Scene pertamanya adalah suasana rumahnya di kampung ketika Lebaran, ketika semua orang berkumpul dan berharap mendapatkan bingkisan dari anggota keluarga mereka yang pergi merantau ke kota. Beberapa baris awal lagu iklan itu mengingatkan pentingnya perantau mengingat orang tua (dan, implikasinya, rumah orang tua di kampung): “Kerja lembur bagai kuda, sampai lupa orang tua, oh hati terasa durhaka...”

Iklan ini mengingatkan para perantau agar menyadari bahwa sejauh-jauhnya mereka merantau, setinggi-tingginya pencapaian mereka di kota, selalu ada rumah masa kecil yang perlu ditengok di hari Lebaran, karena di rumah itulah dulunya mereka ditempa dan dipersiapkan untuk menghadapi kerasnya hidup di kota. Komentar-komentar di iklan itu, dan di berbagai representasi Lebaran lainnya di media sosial, dipenuhi oleh keinginan orang, terutama yang sekarang berusia 20-an dan 30-an, untuk dapat kembali merayakan Lebaran seperti dulu di masa kecil di rumah, ketika hidup masih tanpa beban dan, memakai istilah anak muda masa kini, ketika yang ditakuti hanya PR matematika, bukan cicilan tiap bulannya.

Refleksi Akhir

Keinginan pulang ke rumah menjelang Lebaran lebih dari sekedar kehendak untuk mengunjungi tempat dibesarkan semasa kecil. Rumah masa kecil mungkin jauh lebih sederhana dibandingkan dengan rumah yang seorang perantau miliki di kota di mana ia kini tinggal. Namun, menjelang Lebaran, selalu muncul rindu yang datang sekali setahun, rindu pulang ke rumah. Ada jalinan emosional perantau yang kukuh dengan rumah. Rindu itu semakin menebal bila mengingat orang tua yang kian menua di rumah. Mudik Lebaran ke rumah, pada akhirnya, adalah upaya merajut kembali ikatan dan ingatan dengan orang tua, sanak saudara, nenek moyang, tanah kelahiran, dan semua memori-memori indah yang pernah dihadirkannya.

Jadi, kapan Anda mudik ke rumah di kampung halaman di hari Lebaran?

Penulis adalah sejarawan dan staf pengajar Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta. Mendapatkan gelar sarjana di Universitas Gadjah Mada, gelar master di Universiteit Leiden, dan gelar doktor di Universiteit van Amsterdam. Mengkaji sejarah komunikasi, kolonialisme dan pendudukan, dan Islam di Indonesia. Menulis di sejumlah media seperti Historia.ID, Kompas, dan Republika, serta di berbagai jurnal ilmiah, seperti Media History, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, BMGN-Low Countries Historical Review, Advances in Southeast Asian Studies, Southeast Asian Studies, Wacana, Al-Jami’ah, Studia Islamika, dan Journal of Indonesian Islam.

Buy Article
Punya usulan tema?
promo
Apa tema menarik yang menurut anda layak ditulis untuk Historia Premium
SUBSCRIBE TO GET MORE
If you have a topic that you would like to publish into the Historia Premium, write an abstract and propose it to the internal communication team!
Subscribe
61dd035df96feb03f800b713
6614142e8480a6bdf59696e9
X

Pengumuman

Website Historia.ID Premium akan dinonaktifkan per akhir Februari 2025 karena kami sedang melakukan migrasi konten ke website Historia.ID

Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.

Terima kasih
Historia.ID