Propaganda Saudara Tua

Perang tak hanya melibatkan serdadu dan mesiu. Para seniman juga ambil bagian. Poster jadi senjata. Inilah poster-poster propaganda masa pendudukan Jepang di Indonesia.

OLEH:
Wenri Wanhar
.
Propaganda Saudara TuaPropaganda Saudara Tua
cover caption
Poster Rise of Asia, 1940. (geheugenvannederland.nl).

ONO SASEO, pelukis poster propaganda, terkatung-katung di laut lepas di sekitar Teluk Banten. Kapal yang ditumpanginya karam dihantam torpedo Sekutu. Pertempuran tengah berkecamuk. Selain kapal pengangkut pasukan itu, Jepang kehilangan satu kapal penyapu ranjau. Sementara Jepang menenggelamkan dua kapal penjelajah Sekutu, Houston, milik Amerika dan Perth milik Australia.

Di tengah pertempuran, bersama Abe Tomoji, seorang pekerja seni dan anggota unit informasi rahasia militer, Ono berenang mencari tepian. Begitu juga serdadu Jepang lainnya, yang dipimpin Hitoshi Imamura, komandan Divisi XVI. “Tengah malam itu gelombang besar,” kenang Abe Tomoji dalam buku Tsumi no Hi (Meniti Hari Penuh Dosa).

Setelah berjuang sepenuh tenaga, mereka berhasil mencapai pantai Banten pada 1 Maret 1942 ketika fajar menyingsing. Sesampai di darat, Abe jatuh sakit karena TBC. Ono setia merawat sekondannya tiga bulan lamanya di daerah pegunungan.

ONO SASEO, pelukis poster propaganda, terkatung-katung di laut lepas di sekitar Teluk Banten. Kapal yang ditumpanginya karam dihantam torpedo Sekutu. Pertempuran tengah berkecamuk. Selain kapal pengangkut pasukan itu, Jepang kehilangan satu kapal penyapu ranjau. Sementara Jepang menenggelamkan dua kapal penjelajah Sekutu, Houston, milik Amerika dan Perth milik Australia.

Di tengah pertempuran, bersama Abe Tomoji, seorang pekerja seni dan anggota unit informasi rahasia militer, Ono berenang mencari tepian. Begitu juga serdadu Jepang lainnya, yang dipimpin Hitoshi Imamura, komandan Divisi XVI. “Tengah malam itu gelombang besar,” kenang Abe Tomoji dalam buku Tsumi no Hi (Meniti Hari Penuh Dosa).

Poster pembangunan Asia Timur Raya, 1940. (geheugenvannederland.nl).

Setelah berjuang sepenuh tenaga, mereka berhasil mencapai pantai Banten pada 1 Maret 1942 ketika fajar menyingsing. Sesampai di darat, Abe jatuh sakit karena TBC. Ono setia merawat sekondannya tiga bulan lamanya di daerah pegunungan.

“Setelah sembuh, Abe Tomoji bertugas memeriksa lembar siaran propaganda,” kata Kazuaki Kimura, rektor Poole Gakuin University, yang ahli di bidang propaganda Jepang semasa perang.

Poster kekuatan armada Nippon, 1943. (geheugenvannederland.nl).

Ono sendiri, alumni Tokyo Scholl of Fine Art (kini University Tokyo of the Arts), menjadi kepala bidang seni lukis di Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Sidhoso), yang dibentuk pada April 1943. Abe dan Ono berjibaku memproduksi poster-poster propaganda demi tujuan perang.

Melalui poster, Jepang menarik hati rakyat Indonesia dengan menyebut diri sebagai saudara tua yang akan menyelamatkan saudara muda dari cengkeraman negara-negara Barat. Misalnya terlihat dalam poster tahun 1942, dengan warna dasar merah-putih, yang menampilkan gambar bunga sakura dan penduduk Indonesia. Teksnya berbunyi: “Kemoedian datanglah keamanan jang diharap-harapkan. Bangsa Belanda, Inggeris dan Amerika jang merampas tanah, jang menjiksakan sanak saudaramoe telah lari tersara bara mendapat kekalahan hebat. Sekarang datanglah tentara Nippon dari segala pihak. Baiklah berdjabat tangan dengan serdadoe Nippon, iaitoe seorang saudara bagimoe. Lihatlah koelitnja.”

Poster kedatangan saudara tua untuk saudara muda, 1944. (geheugenvannederland.nl).

Sebelum Invasi

Jauh sebelum menduduki Indonesia, Jepang sudah menjalankan aksi propaganda melalui poster. Aktivitas ini kian sistematis dan terang-terangan setelah pada April 1932 Jenderal Araki, menteri urusan perang Jepang, menulis artikel “The Call of Japan in the Sowa Period” yang menyeru agar Jepang menyelamatkan Asia Timur dari kolonialisme Eropa.

Poster mengajak sekolah latihan pelayaran, 1943. (geheugenvannederland.nl).

Selain itu, Jenderal Araki juga menulis artikel “The Present Position of East Asia”, yang antara lain menyatakan bahwa Kekaisaran Jepang merupakan pemimpin Asia Timur dan karenanya Jepang tidak dapat lagi berdiam diri dan hanya melihat negeri-negeri di Asia Timur terus tertindas.

“Tulisan Jenderal Araki itu menjadi titik awal persiapan materi propaganda Jepang,” tulis Dewi Yuliati, dosen sejarah Universitas Diponegoro Semarang, dalam makalah “Sistem Propaganda Jepang di Jawa 1942–1945”.

Poster mengajak masuk sekolah pertukangan pelayaran, 1943. (geheugenvannederland.nl).

Tahun itu juga, Jepang massif mengirim mata-mata. Mereka mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan mengolahnya sebagai bahan propaganda guna mengambil hati rakyat Indonesia.

Jepang berpegang pada dua prinsip: minshin ha’aku dan senbu kosaku –bagaimana menarik hati rakyat serta bagaimana mengindoktrinasi dan menjinakkan mereka. Prinsip ini, menurut Aiko Kurasawa, sejarawan Keio University Jepang, dilaksanakan untuk memobilisasi seluruh rakyat guna mendukung kepentingan perang dan mengubah mentalitas mereka.

Poster slogan tiga A. (geheugenvannederland.nl).

“Berdasarkan keyakinan bahwa bangsa Indonesia harus dibawa kepada pola tingkah laku dan berpikir Jepang, propaganda ditujukan untuk mengindoktrinasi bangsa ini agar dapat menjadi mitra yang dapat dipercaya dalam lingkungan kemakmuran bersama Asia Timur Raya,” ujar Aiko.

Jepang lalu mengembuskan slogan “Asia untuk Bangsa Asia”, “Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya”, “Satu untuk Semua, Semua untuk Satu”, dan yang paling terkenal “Nippon Thahaja Asia, Nippon Pelindoeng Asia, Nippon Pemimpin Asia”.

Karena propaganda itulah, kedatangan Jepang pada 1942 disambut rakyat, terutama di Jawa, dengan suka cita –kendati hanya sementara.

Poster seruan perang Asia Timur Raya, 1941. (geheugenvannederland.nl).

Poster dan Perang Dunia

Maret 1942, Jepang mengalahkan Hindia Belanda tanpa perlawanan berarti. Karena memahami pentingnya propaganda, Jepang langsung membentuk Sendenbu (Departemen Propaganda), yang dikepalai Hitoshi Shimizu, propagandis profesional yang sudah berkarier sejak 1930. Departemen Propaganda lalu menarik pelukis R.M. Soeroso dan perancang iklan Iton Lesmana.

Jepang juga mendirikan Pusat Tenaga Rakyat (Putera), yang di dalamnya terdapat Departemen Kebudayaan yang digawangi Sudjojono, dedengkot Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi), dan kemudian disusul pelukis Affandi. Lembaga ini juga memproduksi poster. Pada 1944, misalnya, Jepang memesan sebuah poster kepada Affandi bertema menggiatkan keberangkatan romusha. Selain itu, Jepang mendirikan Pusat Kebudayaan, dengan Ono Saseo diangkat sebagai pemuka di bidang lukisan. Ono punya asisten seorang Indonesia bernama Agus Sujaya.

Poster Sama Warna Sama Bangsa, 1943. (KITLV).

Poster-poster propaganda Jepang pun bertebaran. Lihat saja poster bertajuk “Sama Warna Sama Bangsa” tahun 1943 di mana bendera Jepang bersanding dengan bendera Indonesia. Propaganda Jepang tak hanya ditujukan kepada rakyat bumiputera tapi juga kelompok Tionghoa. Sebuah poster tahun 1943 menggunakan dua aksara: kanji dan latin. Tulisannya, “Kalau bersetoedjoe dengan tentara Nippon, tentoe dapat keselamatan dan kesenangan penghidoepanmoe sekalian.”

Sendenbu dan unit-unit propaganda lainnya menerbitkan poster-poster yang memperlihatkan gerak laju perang Asia Timur Raya, kemenangan yang dicapai, seruan menjadi sukarelawan Peta (Pembela Tanah Air) dan Heiho, hingga janji kemerdekaan Indonesia.

Poster mengajak bergabung dengan Peta, 1943. (geheugenvannederland.nl).

Departemen yang dipimpin Ono menggerakkan para pelukis Indonesia untuk berlomba-lomba membuat poster propaganda. Caranya dengan mengadakan sayembara. Pada 1943, misalnya, ketika Jepang di ambang kekalahan dalam Perang Pasifik dan kemudian menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia, Pusat Kebudayaan bagian seni lukis bekerjasama dengan Kantor Pusat Gelora menggelar sayembara poster bertema semangat perjuangan menyongsong datangnya Indonesia Merdeka.

Poster mengajak bergabung dengan Heiho Angkatan Laut, 1943. (geheugenvannederland.nl).

Mewaspadai mata-mata musuh menjadi tema sentral di tahun 1943 yang digerakkan Minseibu, yang dibentuk untuk mengurusi pendidikan. Selain melakukan latihan membasmi mata-mata musuh dan menempelkan poster di pojok-pojok kota, Minseibu juga menggelar sayembara membuat poster di sejumlah kota.

Poster mewaspadai mata-mata musuh, 1942-1945. (geheugenvannederland.nl)

Di Borneo, misalnya, dari 25 poster yang masuk, hanya tiga yang memenuhi syarat. Minseibu menetapkan Semedi dengan poster berjudul “Awas M3! Mata-mata Moesoeh” sebagai pemenang dan berhak mendapat hadiah f.80. Pemenang kedua S.T. Amud dan F.C. Mangindaan, pegawai Minseibu; dan masing-masing mendapatkan hadiah f.50. poster Mangindaan bertuliskan “Indonesia, Insaflah Kepentinganmoe! Moesnahkanlah Mata-mata Moesoeh serta Segala Tipoedajanja!”.

Poster mewaspadai mata-mata musuh. (Pewarta Selebes, 13 Juli 1943).

Tahun berikutnya, di Borneo, Selebes Romoe Kjokai mengadakan sayembara membuat poster bertema bekerja dengan sukarela. Pemenangnya, Moestarif, menampilkan poster bertuliskan “Kerdja! Dasar Bangoennja Asia”.

Sayembara menggambar poster marak digelar di beberapa kota dengan beragam tema. Dari membangkitkan semangat menabung hingga menggerakan pengumpulan padi demi memenuhi kebutuhan di garis depan dan belakang medan perang. Termasuk juga upaya memperkenalkan dan memperluas penggunaan bahasa Nippon “sebagai bahasa Asia Timur Raya”, seperti dilakukan di Kalimantan pada 1944.

Poster seruan berbahasa Nippon, 1943. (geheugenvannederland.nl).

Poster-poster propaganda, baik yang sengaja dibuat maupun hasil sayembara, dipamerkan dan dipasang di sudut-sudut kota maupun media. Hal ini terus dilakukan hingga pengujung kekuasaan Jepang di Indonesia.

Namun, toh Jepang tak kuasa melawan kekuatan Sekutu. Jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki mengakhiri kekuasaan Jepang di Indonesia yang hanya “seumur Jagung”.

Bersama prajurit lainnya, Ono Saseo dipulangkan ke Jepang pada 1946. Di kampung halamannya, dia menjadi kartunis terkenal. Pada 1954, Ono diundang secara khusus untuk melukis aktris Marylin Monroe yang sedang berbulan madu di Jepang bersama Joe DiMaggio, pemain baseball terkenal Amerika. Pada 1 Februari 1954, dalam perjalanan menemui bintang film papan atas itu di Nichigeki Music Hall, Ono mendadak sakit dan meninggal dunia –lima hari sebelum hari ulang tahunnya ke-49.*

Majalah Historia No. 18 Tahun II 2014

Buy Article
Punya usulan tema?
promo
Apa tema menarik yang menurut anda layak ditulis untuk Historia Premium
SUBSCRIBE TO GET MORE
If you have a topic that you would like to publish into the Historia Premium, write an abstract and propose it to the internal communication team!
Subscribe
61dd035df96feb03f800b713
6571f15e232360c484b73443