Teror Subuh di Timur Matahari

Masih banyak orang mengingat kekejaman Westerling di Sulawesi Selatan. Mengingatnya membuat mereka selalu merinding. Jumlah korban simpang siur.

OLEH:
Eko Rusdianto
.
Teror Subuh di Timur MatahariTeror Subuh di Timur Matahari
cover caption
Monumen peringatan korban 40.000 jiwa di Kampung Kalukuang Jalan Langgau, Makassar, Sulawesi Selatan. (Eko Rusdianto/Historia.ID).

SELASA, 28 Januari 1947, ketika matahari pagi sudah setinggi tombak, penduduk dikumpulkan di sebuah lapangan Suppa, ada suara pistol meletus dan ratusan orang terkapar, lalu dimakamkan dalam tiga liang besar.

Saat itu, Sikati berusia sekitar 25 tahun, bersama seorang bayinya tidur dengan pulas di rumahnya di Kampung Ujung, Desa Malongi-longi, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang. Jaraknya sekitar 10 kilometer menuju Suppa. Ketika suara azan subuh dari surau-surau belum terdengar, tiba-tiba datang suara gaduh. Ada serdadu ramai teriak, memerintahkan semua penghuni rumah untuk keluar.

Pada waktu bersamaan di tempat lain, sekitar tujuh kilometer dari Suppa, Ceddung seorang ibu muda dan guru membaca Al-Qur’an di Kampung Kae’, Desa Tassiwalie, Kecamatan Suppa, sudah terjaga. Dia terbangun karena juga mendengar suara ribut serdadu. 

SELASA, 28 Januari 1947, ketika matahari pagi sudah setinggi tombak, penduduk dikumpulkan di sebuah lapangan Suppa, ada suara pistol meletus dan ratusan orang terkapar, lalu dimakamkan dalam tiga liang besar.

Saat itu, Sikati berusia sekitar 25 tahun, bersama seorang bayinya tidur dengan pulas di rumahnya di Kampung Ujung, Desa Malongi-longi, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang. Jaraknya sekitar 10 kilometer menuju Suppa. Ketika suara azan subuh dari surau-surau belum terdengar, tiba-tiba datang suara gaduh. Ada serdadu ramai teriak, memerintahkan semua penghuni rumah untuk keluar.

Pada waktu bersamaan di tempat lain, sekitar tujuh kilometer dari Suppa, Ceddung seorang ibu muda dan guru membaca Al-Qur’an di Kampung Kae’, Desa Tassiwalie, Kecamatan Suppa, sudah terjaga. Dia terbangun karena juga mendengar suara ribut serdadu. 

Sementara itu, Andi Munji di Kampung Suppa, Kelurahan Watang Suppa, Kabupaten Pinrang, ikut pula terjaga. Usianya masih sekitar sepuluh tahun, bersama ibu dan adiknya yang masih belajar merangkak diikutkan dalam gendongan, berjalan menuju lapangan. Dia melihat banyak orang dan tentara berjaga-jaga dengan senjata lengkap.    

Remaja lainnya adalah Akil. Dia sedikit lebih tua dari Munji. Rumah mereka hanya berjarak beberapa meter saja. Akil berusia sekitar 20 tahun, ketika serdadu Belanda mengumpulkan semua penduduk di lapangan. Ayahnya bernama Ambo Siraje, seorang gerilyawan Republik dan penentang Belanda yang tak pernah gentar. 

Di lapangan itu, seluruh penduduk dikumpulkan dari berbagai kampung. Laki-laki dewasa dikumpulkan bertelanjang dada, duduk bersila, dan hanya menggunakan celana kolor. Perempuan dan anak-anak ditempatkan di bawah kolong rumah. Seorang serdadu Belanda berjalan, meneliti setiap orang, lalu tanpa aba-aba menekan picu pistol, pelurunya menembus kepala. Dalam beberapa catatan, ada 208 pria terbunuh tanpa perlawanan di lapangan Suppa, atau sekitar 16 orang setiap jamnya meregang nyawa, disaksikan anak-anak, keluarga, dan istri mereka. 

Peristiwa itu berlangsung sejak pagi hingga menjelang magrib. Banyak orang bertanya-tanya mengapa mereka menyaksikan peristiwa keji itu. Empat orang ini adalah sebagian dari mereka yang selamat dari ribuan penduduk yang meninggal. Mereka mengingat-ingat kejadian, meski harus berhenti sejenak, sebab air mata menetes sendiri. Inilah kali pertama mereka melihat lebih banyak kematian daripada yang mereka pikirkan. Dan saat peristiwa itu terjadi, semua orang sebenarnya tidak mengetahui nasib sendiri. Apakah ada di ujung pistol itu. Mereka hanya bisa berdoa dan berpasrah. 

Lalu pembunuhan itu dikenal sebagai peristiwa Korban 40.000 jiwa, dilakukan oleh serdadu Depot Pasukan Khusus (Depot Speciale Troepen) yang dipimpin Kapten Raymond Westerling.

Sikati. (Eko Rusdianto/Historia.ID).

Teror

Pagi-pagi sekali, Sikati, dengan ratusan penduduk kampung lainnya berjalan melewati pesisir dan menyeberangi sungai kecil dengan hati-hati. Mereka digiring menuju Kampung Suppa, diawasi oleh serdadu-serdadu dengan persenjataan lengkap. Rumah-rumah mereka dibakar, semua barang dan benda apapun tak boleh dibawa serta. Yang tersisa hanya pakaian yang melekat di badan.

Sikati hanya bisa memandangi rumahnya. Api yang berkobar cepat seakan menghiasi langit subuh itu. Barang dagangannya ikut terlalap api. Ketika dia hendak menyelamatkan sedikit barangnya, serdadu Belanda itu menendangnya. Belum surut sedih mendera, serdadu sudah memerintahkan untuk mulai berjalan. Tak ada langkah yang boleh mengendur sedikit pun. Orang-orang berjalan dengan penuh prasangka. Tak ada yang tahu kejadian apa yang menunggunya di sana. Rombongan itu menyelesaikan perjalanannya tak kurang dari dua jam.

Beberapa hari sebelumnya, suami Sikati, Abduh Rahman, sudah lebih dulu ditangkap. Pasukan Belanda menuduhnya sebagai seorang mata-mata dan anggota bende –kelompok liar atau pasukan pribumi yang menentang Belanda. Dengan tangan terikat tak berbaju, suaminya digelandang naik sebuah mobil jip. Kepalanya tak boleh mendongak. Sikati melepas suaminya di halaman rumah dengan perasaan kalut.

Pada Kamis, sepekan sebelum pembunuhan di Suppa, bapaknya Daeng Mappile, seorang tokoh yang disegani, kepala kampung pertama di desa Malongi-longi juga ditembak mati atas tuduhan yang sama. Dia yakin nasib suaminya akan seperti sang bapak.

Tapi sesampai di lapangan Suppa, tempat orang-orang berkumpul, dia masih berharap menemukan rupa suaminya. Namun tak ada. Dalam keadaan yang serba tak menentu, seseorang berbisik padanya bila sudah melihat sang suami ditembak mati sesaat sebelum mereka datang. Jenazahnya sudah dimasukkan ke dalam liang galian. Hatinya remuk redam.

Anak keduanya yang masih kecil menangis dalam pangkuan. Dia lupa menyusuinya. Dan menjelang siang, badan mulai kelelahan.

Andi Munji. (Eko Rusdianto/Historia.ID).

Di tempat yang sama di lapangan Suppa itu, Andi Munji, duduk berdekatan dengan neneknya. Dia melihat bapaknya di antara orang-orang yang duduk bersila. Bapaknya bernama Andi Monjong, menjabat sebagai pabbicara Suppa –camat untuk masa sekarang. Tugas utama Andi Monjong adalah memberi laporan pada pemimpin Suppa, Andi Abdullah Bau Massepe Datu Lolo, yang saat itu bermukim di kota Parepare.

Untuk menempuh perjalanan dari Suppa menuju Parepare pada 1947 hanya menggunakan perahu dan Pabbicara Suppa hampir tiap minggu melakukannya, laporannya berkisar dari mulai keadaan rakyat hingga masalah politik. Karena alasan itulah, Andi Monjong ditahan di penjara Kariango selama tiga pekan.

Andi Munji bersama ibunya, beberapa kali mengunjungi sang bapak untuk sekadar membawa makanan. Ruang tahanan bapaknya bukanlah sebuah sel yang luas, melainkan serupa perangkap atau kurungan yang terbuat dari kayu berbentuk persegi.

Kondisi sang bapak dalam tahanan itu sangat memprihatinkannya. Ukuran “sangkar tahanan” hanya cukup dalam posisi gaya merangkak. Tak dapat duduk dengan posisi tegak apalagi untuk berdiri. “Jadi kalau mau makan disuap saja melalui mulutnya dari depan. Mandrasa dikka (sangat tersiksa, red.),” kata Andi Munji.

Andi Munji adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Saat detik-detik penembakan bapaknya, dia berada tepat dengan garis lurus si penembak. Dia hanya melihat punggung sang bapak. Sambil mempraktikkan gerakan itu, Andi Munji, menirukan bentuk pistol dengan menegangkan ujung jari telunjuk dan ibu jarinya, sementara jari lainnya seperti mengepal. Dia melihat orang menembak itu menggunakan tangan kiri. Dan dengan jarak yang begitu dekat, seperti menodong, dalam sekejap kepala bapaknya tertembus peluru. “Bapak saya jatuh. Seperti orang sujud, mukanya menghadap tanah,” kata Munji. “Itu pabbicara Suppa, sudah mati,” kata Palintang, neneknya yang ditemani duduk.

Pabeseang adalah kakak Munji. Ketika bapaknya sudah tertelungkup meninggal, dia berlari hendak mendekati. Tapi dihalau. Kakinya ditumbuk dengan senjata gagang panjang, hingga patah dan lumpuh seumur hidup. “Saat itu saya hanya bisa menangis,” kata Andi Munji. “Tapi, tiba-tiba malah ada itu orang Belanda datang bawakan saya roti, tapi saya tidak makan itu roti,” lanjutnya.

Selain bapaknya, Munji juga menyaksikan paman dan kakeknya terbunuh di tempat yang sama. Ketika jenazah bapaknya digotong beberapa orang menuju liang, maka si pengangkat pun mendapatkan pula hadiah peluru. Begitulah seterusnya. Pembunuhan di Suppa dalam beberapa catatan yang dilakukan Raymond Westerling diperkirakan salah satu yang terbesar karena hanya dilakukan satu hari. Selain korban di Galung Lombok, Mandar, ada sekitar 800 orang tewas dalam beberapa hari.

Ceddung. (Eko Rusdianto/Historia.ID).

Jumlah Korban

Westerling tiba di Makassar pada awal Desember 1946 bersama 123 serdadu lainnya, melalui unit pasukan khusus DST. Dan pada 10 Desember 1946, mereka melakukan pembunuhan pertama di wilayah Batua, Makassar, dengan mengumpulkan sebanyak 45 orang. Aksi tersebut dilakukan untuk memberi peringatan, bila negara dalam keadaan bahaya. Sejarawan Universitas Hasanuddin, Edwar Poelinggomang, mengistilahkannya semacam tindakan peringatan atau shock therapy untuk masyakarat.

Pemilihan Sulawesi Selatan untuk pusat operasi karena merupakan wilayah strategis sebagai ibu kota negara Timur Besar yang meliputi seluruh Indonesia Bagian Timur atau groote ost. Selain itu, kontur wilayah dan persebaran yang luas, serta penduduk yang memiliki semangat juang. Sementara di dalam hutan para gerilyawan masih bergerak.

Tahun 1945, saat NICA memasuki Sulawesi Selatan, perjuangan politik kaum Republik dipecah-belah. Dr. M. Natzir Said dalam bukunya SOB 11 Desember 1946, menulis bahwa NICA menggandeng tokoh-tokoh masyarakat dan mengganti raja-raja yang pro-Republik dengan mereka yang mau bekerja sama dengan NICA. Dan kelak kelompok inilah yang membantu tugas Westerling dan pasukan Belanda melakukan aksi penumpasan. Termasuk membentuk PARNESI (Partai Negara Serikat Indonesia), Partai Kemerdekaan Indonesia (PKI), PARKI (Partai Kemerdekaan Indonesia) pimpinan Sonda Dg. Mattajang.

Rencana pun dimulai, pada Juli 1946 Belanda menggelar konferensi di Malino untuk meloloskan konsep negara federal, yakni pembentukan Negara Indonesia Timur, namun gagal. Kemudian pada 11 Desember 1946, perundingan dipindahkan ke Denpasar, Bali. “Di konferensi Bali, Negara Indonesia Timur terbentuk. Karena para delegasi dipaksa dengan ancaman akan lebih banyak korban, karena Westerling sudah melakukan pembunuhan sehari sebelumnya,” kata Edwar.

Tapi bersamaan dengan keputusan itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Mook di Batavia, mengeluarkan surat perintah untuk melakukan hukum di tempat (stand-recht), sebab negara dalam keadaan darurat atau Staat van Orlog en Beleg. Dalam surat perintah itu, ada empat wilayah yang mendapat perhatian utama, yakni afdeling Makassar, Bonthain (Bantaeng), Mandar, dan Parepare yang meliputi Suppa.

Akil. (Eko Rusdianto/Historia.ID).

Menurut Edwar, dari empat wilayah tersebut, kelompok-kelompok kelaskaran tumbuh subur dan berkembang, dari KRIS, BPRI, TRI, LAPRIS hingga Lipan Bajeng. Di Parepare pemimpin pemerintah Republik Indonesia dijabat oleh Datu Suppa Toa Andi Makassau dan pemimpin tertinggi kelaskaran adalah Datu Suppa Lolo Andi Abdullah Bau Massepe.

Saat itu, Andi Makassau menjalin hubungan dengan Jawa melalui perdagangan. Bahkan beberapa penduduk dikirim ke Jawa untuk melakukan latihan militer, dan sebaliknya pasukan-pasukan kelaskaran dengan mudah berlabuh di pelabuhan Suppa. Untuk itulah Westerling pada pertengahan Januari 1947 meyambangi Parepare. Bersama pasukan KNIL dan pasukan pendukung dari pribumi yang sudah dilatih sejak masuknya NICA yang dinamakan Poke, menangkap Andi Makkasau yang kemudian ditenggelamkan di laut dan Bau Massepe diseret dengan mobil hingga meninggal dunia. “Pasukan Poke inilah yang menyebar teror bahkan hingga Juli 1947,” kata Edwar.

Atas dasar itulah, pada 1947 ketika Jawa dilanda kesedihan saat sebuah gerbong kereta barang dari Bondowoso menuju Surabaya, digulingkan dan mengunci rapat sekitar 100 orang di dalamnya. Presiden Sukarno mengutuknya. Namun Kahar Muzakkar menyampaikan hal yang lebih perih, bila di Sulawesi telah terjadi pembunuhan 4.000 bahkan sudah mencapai 40 ribu korban jiwa. 

Versi lain tentang dari siapa angka 40 ribu itu muncul juga disampaikan oleh pengamat militer Salim Said. “Manai Sophiaan, bapaknya Sopan Sophiaan itu orang yang pertama kali melontarkan jumlah korban Westerling 40 ribu orang,” kata Salim Said kepada Historia.

Kemudian Presiden Sukarno mengajukan gugatan peristiwa Westerling di Makassar itu kepada pemerintah Belanda sebagai tindakan kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia. Peringatan peristiwa korban 40.000 jiwa dilakukan pertama kali di Yogyakarta pada Desember 1947.

Meski demikian perdebatan mengenai jumlah korban yang tewas dalam aksi Westerling itu masih diperbincangkan, tapi Edwar yakin angkanya mencapai ribuan. “Dari fakta fisik yang ada, di seluruh taman makam pahlawan di Sulawesi Selatan jumlah korbannya mungkin tak mencapai 30.000 orang,” katanya.

Andi Munji berdoa di makam kuburan massal di Kelurahan Matang Suppa Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. (Eko Rusdianto/Historia.ID).

Bertahan Seadanya

Ambo Siraje adalah komandan batalyon dan membawahi puluhan pasukan. Selama melakukan perjuangan, bersama keluarga dan pasukannya, dia bergerilya dari hutan ke hutan. Akil saat itu sudah berusia 20 tahun dan sudah mulai ikutan. “Saya sering keluar masuk hutan dengan bapak saya,” katanya.

Setelah Bau Massepe dan Andi Makkasau dinyatakan meninggal dunia, pasukan pro-Republik Indonesia terus berpencar ke hutan-hutan untuk menyelamatkan diri. Akil bersama ibunya kembali ke kampung. “Setelah pemimpin Suppa meninggal itu, suasana memang sudah kacau. Tidak ada harapan lagi. Sama seperti perasaan anak yang kehilangan bapaknya,” kata Akil.

Entah kenapa, menjelang siang, rombongan dari Kampung Kae’ dibolehkan kembali pulang. Ceddung bersama rombongan perempuan dan anak-anak yang tersisa berjalan beriringan. Tapi, sebelum meninggalkan lapangan penembakan itu, dia menoleh ke liang tempat beberapa jenazah ditumpuk, termasuk jenazah suaminya. 

Cerita sedih tak berakhir sampai di sana. Setibanya di desa, setelah melalui perjalanan yang melelahkan, Ceddung tercenung mendapati rumahnya tersisa sebagai abu yang rata dengan tanah. Tak ada lagi makanan. Di sebuah tanah lapang, beberapa orang duduk menangis. Penduduk dari kampung lain yang beruntung rumahnya tak dibakar membawakan makanan seadanya.

Sementara Sikati dan penduduk dari Lanrisang menjelang magrib baru diperbolehkan pulang. Mereka berduyun-duyun dalam rombongan besar, berjalan hati-hati melewati pematang dan pesisir. Perut mereka keroncongan. Tanaman jagung yang belum lagi mengeras bonggolnya lumat dilalap juga. “Sudah tidak ada makanan apa boleh buat nak,” katanya.

Penderitaan itu berlangsung cukup lama. Sikati bertahan menghidupi dua orang anaknya dengan membangun kembali gubuk kecil dari bekas rumah yang terbakar. Dia menjual kue di rumahnya. Membantu penduduk lain yang sedang panen untuk mendapatkan upah beras. “Mapeddiki nak. Mapeddi (Susah sekali, nak. Susah sekali keadaaan),” katanya mengenang masa lalu.

Tak hanya itu, berbulan-bulan kemudian, penduduk masih trauma bila di kampung mereka melintas mobil-mobil jip dengan pasukan militer. “Semua pintu akan ditutup. Masyarakat bahkan beraktivitas dengan seadanya. Semua serba ketakutan,” kata Andi Munji.

Menurut Andi Munji, peristiwa penembakan tidak hanya berhenti di hari itu. Efeknya berlangsung lama dan membuat beberapa orang enggan membicarakan. “Sekarang ada pembicaraan untuk menuntut ganti rugi. Saya pribadi tidak akan memburu itu. Tidak mungkin. Itu seperti menggadai nyawa orang tua saya,” katanya.

Ceddung pun berpendapat sama. Dia hanya berharap peristiwa serupa tak lagi terulang. “Selaluka merinding, ca’kiddika ake kukilalai (Selalu merinding bila mengingat-ingat masa itu),” ujarnya.*

Majalah Historia No. 7 Tahun I 2012

Buy Article
Punya usulan tema?
promo
Apa tema menarik yang menurut anda layak ditulis untuk Historia Premium
SUBSCRIBE TO GET MORE
If you have a topic that you would like to publish into the Historia Premium, write an abstract and propose it to the internal communication team!
Subscribe
61dd035df96feb03f800b713
64f529fc1d375b023502a802